Lindungi Petani, Jatim Tolak Gula Impor

Tidak ada komentar 175 views

Surabaya, (DOC) – Kegigihan Gubernur Jatim, H Soekarwo dalam memperjuangkan nasib petani tebu mendapat apresiasi positif dari Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Ismed Hasan Putro. Menurut dia, hanya Jatim satu-satunya provinsi yang gubernurnya dengan tegas menolak gula impor.
“Hanya Jatim yang berani malarang gula impor masuk ke wilayahnya. Jawa Barat dan Jawa Tengah saja tidak ada larangan. Saya berharap Pak Aher sama Pak Ganjar bisa meniru Pak Karwo. Jadi, kalau pemerintah pusatnya tidak bisa mengambil keputusan (soal gula impor, red), diharapkan pemda bisa beraksi. Kan sudah ada otonomi daerah,” ujarnya, Rabu (28/5).
Menurutnya, rembesan gula rafinasi impor selama ini memberatkan para petani gula. “Saya menilai ini terjadi karena tidak adanya ketegasan pemerintah pusat dalam menindak para pelakunya. Kementerian Perdagangan ini terus memberikan izin impor, impor, impor, padahal stok cukup. Ini yang membuat penjualan gula tebu (petani) sulit,” tuturnya.
Dia mengatakan, tidak adanya pembatasan gula impor yang masuk mengancam para petani tebu, dan bakal memunculkan adanya kemungkinan perembesan ke pasar tradisional yang selama ini menjadi pansa pasar gula tebu petani. “Sampai hari ini tidak pernah ada ketegasan dari pemerintah pusat soal peredaran gula rafinasi,” tegasnya.
Tidak adanya gula impor di Jatim juga ditegaskan Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Timur, Rusdianto. Ia memastikan bahwa Jawa Timur bersih dari gula impor. Impor gula yang dilakukan oleh Bulog Pusat, kata dia, hanya untuk wilayah luar Jatim dan bukan didistribusikan di wilayah Jawa Timur. Bahkan, lanjut dia, bongkar muat gula impor sampai saat ini pun tidak melewati pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
“Jangankan bongkar muat, menitipkan di gudang kami pun tidak ada. Karena kami berupaya melakukan instruksi gubernur dengan benar bahwa gula impor tidak akan masuk Jatim satu bulan sebelum musim giling hingga dua bulan setelah musim giling selesai,” ujarnya.
Bahkan, pihaknya juga telah mengirim surat ke Jakarta untuk menangguhkan masuknya gula impor ke Jatim. “Ini atas instruksi dari Gubernur Jatim karena Jatim adalah lumbung gula nasional, sementara kondisi stok gula di Jatim hingga saat ini masih menumpuk,” tegasnya.
Menurut dia, kebijakan impor gula Perum Bulog di tahun ini adalah kebijakan pusat. Untuk pengadaan stok gula di Bulog Jatim, Bulog pusat telah melakukan pembelian gula dari PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sebanyak 8.000 ton. Saat ini stok sebanyak 8.000 ton tersebut dititipkan di gudang Pabrik Gula (PG) Krebet di Malang. (r4)