Managemen Anggaran Pemkot Surabaya Jadi Percontohan

Tidak ada komentar 214 views

Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat sebagai kota di Indonesia yang telah berhasil memanfaatkan teknologi elektronik dalam pengelolaan anggaran. Bahkan, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainnya di Indonesia, Surabaya sudah jauh lebih maju.
Penegasan tersebut disampaikan Asisten Ahli Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UK4), Dema Tampubolon ketika hadir dalam acara sosialisasi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan anggaran di Graha Sawunggaling Lantai VI kantor Pemkot Surabaya, Jumat (11/4/2014).
“Jadi, kami di UK4 punya program terkait partsipasi masyarakat. Kalau di Surabaya kita tahu sudah luar biasa. Surabaya sudah jauh beda dengan kota-kota lainnya karena sudah pakai elektronik semua, mulai dari musyawarah rencana pembangunan oleh masyarakat hingga perencanaan pegawai. Kota lain masih mencoba ke arah sana tetapi belum seperti Surabaya,” tegas Dema Tampubolon.
Menurutnya, selain di Surabaya, program sosialiasi tersebut juga dilakukan di beberapa daerah di Indonesia secara serentak. Dari program tersebut, nantinya bisa didapatkan gambaran seperti apa tingkat partisipasi masyarakat di tiap-tiap kota.
Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, Pemkot Surabaya sudah menerapkan pengelolaan anggaran secara elektronik sejak tahun 2003. Di tahun itupula, proses pelaksanaan lelang juga dilakukan secara elektronik. Pemkot Surabaya kini tidak lagi melakukan pengelolaan anggaran dengan cara cash, tetapi dengan sistem online.
Menurut walikota, penggunaan elektronik dalam pengelolaan anggaran, sudah menjadi keharusan. Pemakaian sistem elektronik selain efisien dalam segi waktu, juga bisa lebih detail. Bahkan di Surabaya, penggunaan elektronik sudah dilakukan sejak tahapan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) di mana setiap masyarakat bisa memberikan usulan pembangunan. Ini karena setiap tahun, usulan masyarakat sampai 3000 usulan. Bahkan pernah sampai 10 ribu usulan.
“Kalau ndak pakai elektronik, waktu akan habis untuk administrasi saja. Dan semakin lama proses administrasi, maka akan semakin rumit. Padahal, masyarakat ndak pengen tahu bagaimana prosesnya, mereka menginginkan hasilnya seperti pengurusan BPJS dan akta kelahiran jadi lebih cepat,” jelas walikota.
Walikota yang telah membawa Surabaya meraih lebih dari 50 penghargaan level nasional dan internasional ini menjelaskan, penggunaan sistem online telah berdampak pada penghematan anggaran. Walikota mencontohkan, untuk perjalanan dinas selama satu tahun kemarin, anggaran usulan dari masing-masing dinas harus melalui satu atap dan ternyata bisa menghemat Rp 5 miliar dari 14 miliar menjadi 9 miliar. Anggaran perjalanan dinas itu termasuk memberangkatkan 60 guru untuk disekolahkan selama satu bulan di luar negeri, juga mengirim siswa-siswi berprestasi ke luar negeri.
“Dalam dua tahun ini, kami juga tidak ada anggaran untuk acara di hotel. Sehingga kami bisa menghemat cukup besar,” sambung Walikota Risma.
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, Pemkot Surabaya membuka semua pintu dengan memanfaatkan teknologi. Masyarakat dari tingkat RT/RW, bisa menyampaikan usulan pembangunan dengan memaksimalkan keberadaan program sapawarga maupun jejaring social seperti Facebook ataupun Twitter.
“Di setiap proyek juga ada papan proyek, dan kalau ada laporan masyarakat, dinas wajib menjawabnya dalam 1×24 jam,” sambung walikota.
Sementara Asisten Administrasi Umum Pemprov Jatim, Ahmad Djaelani menambahkan, tim evaluasi dan pengawasan penyerapan anggaran (TEPPA) telah menetapkan tahun 2014 sebagia tahun percepatan anggaran. Dan itu perlu dilakukan perencanaan terukur yang dimulai dengan pembuatan jadwal kegiatan di masing-masing lembaga, serta melakukan evaluasi secara berkala terhadap kegiatan yang dilakukan. “Dan diharapkan ada partisipasi dari elemen masyarakat,” ujarnya.(humas/r7)