Mantapkan Program Lingkungan dengan Joint Crediting Mechanism

Surabaya, (DOC) – Kerjasama Surabaya dengan Pemerintah Jepang di bidang pengurangan karbon dan pengelolaan lingkungan bakal semakin mantap. Hal itu seiring adanya Joint Crediting Mechanism (JCM) Feasibility Study (FS) yang digelar di Ruang Pola Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Rabu (10/7/2013).
Forum tersebut diikuti 26 orang yang tergabung dalam 12 institusi asal Negeri Matahari Terbit. Dari dalam negeri, sebanyak 6 instansi pemerintah ikut ambil bagian. Mereka datang dari beberapa kementerian dan pemerintah daerah.
Pertemuan dibagi dalam dua bagian. Sesi pertama membahas masalah pengelolaan energi, transportasi dan penanganan kemacetan. Dilanjutkan dengan sesi kedua tentang pengelolaan sampah dan pengolahan air limbah.
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya memang banyak belajar tentang pengelolaan lingkungan dari Jepang, utamanya dari Pemerintah Kota Kitakyushu. Komitmen itu pula yang mendasari terjalinnya Green Sister City antara kedua kota tersebut.
Kerjasama antara Surabaya dan Kitakyushu dimulai pada 1997 dengan fokus pada pengelolaan sampah. Namun, pada masa-masa awal, wali kota mengakui kerjasama kurang berkembang pesat. Hingga pada 2005, kedua kota sepakat lebih mengintensifkan program lingkungan, seperti metode Takakura dan pembangunan rumah kompos. Hasilnya, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) berkurang 10 hingga 20 persen.
Nah, kerjasama yang telah terjalin kini mulai dikembangkan lebih komprehensif. Ditandai dengan penandatanganan MoU antara Pemerintah Kota Surabaya dan Kitakyushu yang menyepakati sembilan program pengelolaan lingkungan. “Tahun lalu Surabaya dan Kitakyushu menyepakati pengembangan sembilan program, diantaranya pembuatan tempat pembuangan sementara (TPS) terpadu, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal, dan pengelolaan kawasan industri yang lebih ramah lingkungan,” papar wali kota saat membuka JCM-FS yang juga dihadiri Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Surabaya Noboru Nomura dan Sekretaris Menteri Lingkungan Hidup (Sesmen LH) Hermien Roosita.
Kabag Kerjasama Ifron Hady menambahkan, Surabaya merupakan kota yang paling berhasil menerapkan konsep pengelolaan lingkungan. Atas dasar itu, sekitar 2009 Pemerintah Kota Kitakyushu menjadikan Surabaya sebagai percontohan di 40 kota, baik di dalam maupun luar negeri.
Sementara, Sesmen LH Hermien Roosita mengapresiasi kerja keras pemkot Surabaya selama ini. Menurut dia, apa yang dilakukan pemkot penting bagi peningkatan kualitas hidup. Juga untuk masa depan generasi penerus. Kemajuan Kota Surabaya, diakui Roosita, sangat pesat sehingga tak mengherankan jika Surabaya langganan dianugerahi Adipura Kencana.
Pendapat senada diutarakan Noboru Nomura, Konjen Jepang di Surabaya. Nomura mengatakan dirinya tiga kali mendapat penempatan tugas di Kota Pahlawan. Jadi, dia tahu betul perkembangan Surabaya, termasuk kemajuan infrastruktur. Namun, menurutnya yang paling berkesan adalah progres dari segi lingkungan hidup.
“Saya mengucapkan terima kasih karena sudah membuat Surabaya sebagai kota yang bersih, indah, dan nyaman. Saya berharap harus ada implementasi nyata dari forum ini, yang bisa memberi dampak positif bagi masyarakat,” tuturnya. (r4)