Marak Bangunan Tak Ber-IMB di Surabaya

Tidak ada komentar 233 views

Surabaya,(DOC) – Sebanyak 50 bangunan beralih fungsi menjadi rumah toko (ruko) dan hotel. Sayangnya, proses peralihan ini tanpa disertai dengan adanya izin mendirikan bangunan (IMB). Sehingga, diperkirakan, potensi pajak yang bisa diterima Pemerintah Kota (Pemkot) menjadi lenyap.

Data sebanyak 50 bangunan yang beralih fungsi itu berasal dari hasil inspeksi mendadak (sidak) anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya. Ke-50 bangunan yang awalnya berupa hunian itu tersebar sepanjang Jalan Mayend Sungkono dan Jalan Manyar Kertoarjo. Bahka, 50 bangunan itu juga diduga tidak mengantongi tanda daftar usaha pariwisata (TDUP).

Padahal dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 1999 Tentang IMB, peralihan fungsi bangunan harus sesuai dengan keterangan rencana tata kota Surabaya. Maka, tarif retribusi juga harus disesuaikan.
“Peralihan fungsi bangunan dari semua pemukiman menjadi komersial ini tentu merugikan pemkot karena tidak ada IMB-nya. Padahal, ketika bangunan itu beralih fungsi menjadi hotel, kan tentu ada pajaknya. Pajak ini terkait dengan tingkat okupansi kamar hotel itu. Jelas potensi pajaknya hilang ada karena IMB-nya tidak ada,” kata anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Erick Tahalele, Selasa(24/6/2014) kemarin.

Menanggapi temuan anggota dewan tersebut, Kepala Bagian Hukum Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Maria Theresia Ekawati Rahayu mengatakan, secara hukum peralihan fungsi bangunan hunian menjadi ruko maupun hotel tidak menjadi masalah. Pasalnya, kawasan disepanjang Jalan Mayjend Sungkono maupun Jalan Manyar Kertoarjo sudah direncanakan sebagai kawasan jasa dan perdagangan. Ini diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Kemen PU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Ruang Tata Wilayah Nasional. “Tidak masalah kalau rumah berubah jadi hotel maupun ruko. Justru ini sesuai dengan misi kota Surabaya sebagai kota perdagangan dan jasa,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Bidang Pengendalian dan Pengawasan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Surabaya, Sus Hermanto juga menyatakan hal senada dengan Maria Theresia Ekawati Rahayu. Menurut dia, kawasan Jalan Manyar Kertoarjo dan Jalan Mayend Sungkono saat ini sudah diklasifikasikan sebagai kawasan jasa dan perdagangan. Sehingga wajar jika saat ini di kedua kawasan tersebut menjamur banyak ruko, restoran dan juga hotel berbintang. Keberadaan sektor-sektor usaha ini sangat penting dalam menggerakkan ekonomi Surabaya. ” Jadi, saya kira tidak ada aturan apapun yang dilanggar, baik oleh pemilik ruko maupun pemilik hotel,” imbuhnya. (lh/r7)