Masuk Rusun, Opsi Terakhir Warga Pinggir Rel

Tidak ada komentar 106 views

Surabaya – Opsi ditempatkan di rumah susun (Rusun) yang ditawarkan oleh Pemkot Surabaya, disambut baik oleh warga yang tinggal di pinggiran rel kereta api (KA). Namun, opsi itu dianggap sebagai pilihan terakhir.
Perwakilan warga Surabaya yang tinggal di pinggiran rel, Wahyu Nugroho mengatakan, opsi untung rugi masih diinginkan oleh sebagian warga.
“Memang, ada beberapa warga masih berharap adanya ganti untung. Makanya, tinggal di rusun meskipun opsi bagus, itu tetap opsi terakhir,” jelas Wahyu, Rabu (6/2).
Dikatakan Wahyu, pihaknya senang karena Pemkot Surabaya peduli dengan nasib mereka. Hanya saja, tawaran tinggal di Rusun tersebut harus jelas mekanismenya. Seperti jika satu rumah yang biasanya ditempati dua kepala keluarga (KK), apakah dapat satu Rusun. Termasuk soal adanya tarif sewa Rusun.
“Kalau masih ada sewa ya kita tentu keberatan. Soalnya, warga di pinggiran rel, sebagian besar kondisi ekonominya menengah ke bawah. Selama ini kita hanya bayar PBB (Pajak Bumi dan Bangunan),” sambung Wahyu yang juga wakil Ketua RW II Ngagel ini.
Wahyu malahan menantang untuk dibuktikan bila ada pihak yang menganggap warga di pinggiran rel termasuk orang mampu.
“Kalau ada bilang mampu, monggo disurvei berapa penghasilan. Kita main data saja. Rata-rata penghasilan warga pinggiran rel di bawah Rp 1,5 juta. Makanya, kalau untuk sewa lagi ya sulit,” sambung dia.
Ditanya apakah keberadaan Rusun yang dipakai untuk meng-cover warga pinggiran rel sudah cukup, Wahyu menyebut tidak cukup jika dimasukkan semuanya.
“Kalau dimasukkan semua ya ndak cukup, harus diadakan rusun baru,” sambung pria berpostur tinggi ini.
Sebelumnya, ribuan warga Surabaya yang tinggal di pinggir rel kereta api, menggelar demonstrasi besar-besaran di Balai Kota Pemkot Surabaya, Senin (4/2). Mereka menolak rencana penggusuran rumah mereka oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Masyarakat yang tergabung dalam aksi rakyat pinggir rel suroboyo ini mendesak Pemkot untuk membela mereka. Jika tuntutan mereka diabaikan PT KAI, mereka mengancam akan mengerahkan massa yang lebih besar dan memblokir jalur serta stasiun kereta api. (K-4/hd)