Media Massa Jangan Menjadi Mesin Fotocopy

Tidak ada komentar 126 views

Jakarta, (DOC) – Pemilihan umum presiden (pilpres) akan digelar pada 9 Juli mendatang. Pemberitaan mengenai seputar pilpres sudah marak diberitakan baik oleh media cetak maupun elektronik. Media memang menjadi salah satu corong informasi mengenai pilpres, dan diharapkan media menyajikan berita yang factual dan berimbang.
Pakar Komunikasi politik Indonesia, Bachtiar Aly mengakui media menjadi ujung tombak dalam setiap peristiwa yang terjadi di Indonesia, termasuk pilpres 2014.“Media massa harus mempunyai kemampuan menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi, tidak boleh bohong, tetapi perlu juga melihat tahapan-tahapannya. Kadang-kadang kebenaran itu tidak bisa disampaikan sekaligus. Tidak manipulatif. Sebenarnya untuk masyarakat kita, asal tahu suguhannya ini A, ini B, ini C, sehingga ada pilihan. Jangan sampai tidak seimbang,” tutur Duta Besar Indonesia untuk Mesir periode 2002-2005.
Menurut Ketua Dewan Pakar NasDem, masyarakat harus disajikan apa kondisinya dan media massa ibaratnya menyajikan makanan di atas meja, silakan dipilih mana yang disuka, jangan mengatakan ini makanan yang cocok untuk Anda (masyarakat). “Meskipun demikian, media massa juga jangan menjadi mesin fotokopi, tetapi harus ada kemampuan memberikan kontribusi. Pernyataan yang provokatif bisa membuat runyam. Pers tidak perlu galau. Sebaliknya, menyembunyikan terlalu banyak lalu suatu kali diungkapkan, itu kan berbahaya,” ucap Bachtiar.
Menyoroti geliat pemilu presiden, mantan Ketua Dewan Guru Besar Universitas Indonesia ini mengatakan negara Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengembalikan nila-nilai ke Indonesiaan guna membangun negara ini ke arah yang lebih baik dimasa mendatang.
“Kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengembalikan nilai-nilai ke Indonesiaan untuk membangun bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik, setidaknya masa lima tahun ke depan. Selain itu, siapapun nantinya yang akan memimpin Indonesia maka harus menanggalkan politik balas dendam. Dengan menghapus politik balas dendam maka bangsa ini bisa dibangun bersama dengan segenap komponen bangsa yang plural,” ucap suami dari Indrijati Inawangsih ini.
Bachtiar juga menyoroti banyaknya persoalan pelik di Indonesia saat ini karena diakibatkan oleh nilai-nilai ke-Indonesiaan yang sudah memudar dari setiap anak bangsa di negeri ini. “Sebagai negara yang berbhineka, nilai-nilai ke Indonesiaan itu sangat perlu dalam membangun bangsa yang besar ini dengan segala potensi yang dimiliki. Sehingga Indonesia menjadi sebuah negara kuat dan dan besar di mata dunia,” ucap Alumni Universitas Padjajaran ini.
Caleg Partai NasDem dari Dapil Aceh I yang terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2014 – 2019 mengungkapkan, bangsa ini memiliki nilai-nilai ke-Indonesiaan yang sudah lama terbangun dan telah membawa negara ini terpandang di mata dunia. Nilai-nilai ke Indonesiaan itu seperti toleransi, sopan-santun, gotong royong, solidaritas, ketulusan, dan kebersamaan. “Tapi kegotongroyongan, dan kebersamaan rasanya selama ini sudah nyaris ditinggalkan. Semua orang sekarang berbicara atas nama kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, sehingga setiap saat dapat menimbulkan gesekan-gesekan,” sesalnya.
Oleh karena itu, Bachtiar berharap para anggota parlemen yang menjadi rekan kerjanya nanti, harus mampu membangun kebersamaan dalam membangun Indonesia ini, sehingga tidak ada lagi perbedaan atas nama kepentingan kelompok tertentu. “Perbedaan dalam demokrasi harus bisa dijadikan kekuatan dalam membangun negeri ini. Para elite politik hingga masyarakat jangan sampai terjebak terlalu dalam dengan budaya jalan pintas (menerabah), sehingga dalam upaya pencapaian kebaikan untuk negeri ini melupakan nilai-nilai ke Indonesiaan yang seharusnya dikedepankan,” tutur Bachtiar. (r4)