Menkue Optimis Pertumbuhan Ekonomi Capai Target

Tidak ada komentar 127 views

Jakarta, (DOC) – Menteri Keuangan Chatib Basri optimistis pertumbuhan ekonomi pada 2014 dapat mencapai target yang ditetapkan dalam APBN sebesar enam persen, terutama bersumber dari konsumsi rumah tangga.
“Saya cukup optimis ‘range’nya 5,8–6,0 persen, karena dengan inflasi rendah (tahun ini) maka daya beli akan tinggi dan mendorong pertumbuhan,” katanya di Jakarta.
Chatib mengatakan faktor lain yang diperkirakan menyumbang pertumbuhan ekonomi tahun 2014 adalah peningkatan konsumsi mulai Februari terkait penyelenggaraan Pemilihan Umum pada April 2014.
“Orang-orang akan berbelanja untuk pemilu, untuk beli kaos dan makanan. Ini ada ‘additional income’ untuk menyumbang peningkatan belanja, konsumsi ini porsi PDB terbesar kita,” ujarnya.
Ia menambahkan konsumsi pemerintah masih konsisten memberikan andil pada pertumbuhan ekonomi, meskipun komponen ini tidak menyumbang peranan yang terlalu besar dibandingkan sektor ekspor yang diperkirakan membaik mulai 2014.
“Ekonomi AS mulai membaik dibandingkan tahun 2013, harusnya ekspor sedikit membaik. Yang turun mungkin investasi dan akan ‘slowdown’,” ujar Chatib.
Chatib mengatakan dengan kondisi yang lebih baik secara fundamental dibandingkan tahun 2013, maka perekonomian nasional tahun ini dapat tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu yang tercatat sebesar 5,78 persen.
Menurut pengeluaran, perekonomian Indonesia 2013 didukung oleh komponen ekspor yang tumbuh 5,3 persen, konsumsi rumah tangga 5,28 persen, konsumsi pemerintah 4,87 persen, pembentukan modal tetap bruto 4,71 persen dan impor 1,21 persen.
Namun struktur PDB tahun 2013, masih didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 55,82 persen, pembentukan modal tetap bruto 31,66 persen, ekspor 23,74 persen, impor 25,74 persen dan konsumsi pemerintah 9,12 persen.
Struktur perekonomian secara spasial masih didukung oleh Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 57,99 persen, Sumatera 23,81 persen, Kalimantan 8,67 persen, Sulawesi 4,82 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,53 persen serta Maluku dan Papua 2,18 persen. (we/r4)