Menteri Kesehatan Salut Layanan Puskesmas Dupak

Tidak ada komentar 298 views

Surabaya,(DOC) – Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Nafsiah Mboi, menganjungi jempol pelayanan Puskesmas Dupak Surabaya.
Menkes yang berkunjung selama satu jam ke puskesmas Dupak tersebut, sempat melihat langsung pelayanan pasien yang tengah berobat ke poli-poli puskemas. Bahkan Menkes Nafsiah Mboi juga menginterview warga yang sedang berobat tentang pelayanan kesehatan.
Tak luput juga, pasien ruang isolasi yang mengidap penyakit HIV –Aids, yang mendapat kunjungan spesial dari Menkes pagi tadi.
Dalam kesempatan tersebut, Menkes menyatakan niatnya untuk mengembangkan Puskesmas perkotaan yang harus memiliki karakteristik berbeda dengan puskesmas di pedesaan. Puskesmas Dupak yang mempunyai pelayanan dan fasilitas yang cukup baik, layak dijadikan contoh pengembangan puskesmas perkotaan.
“Saat ini, kami memang sedang fokus mengembangkan puskesmas di wilayah perkotaan. Tapi sejauh ini saya melihat fasilitas dan penanganan yang ada di sini sudah sangat baik,” tutur Menkes di sela-sela acara, Selasa (02/04/2013).
Sementara itu berdasarkan data dari Kepala Puskesmas Dupak, Nurul Lailah, rata-rata pasien yang berobat di puskesmas Dupak sehari mencapai 200 sampai 300 orang. Puskesmas yang berdiri sejak tahun 1958, semula berstatus puskesmas pembantu.
Nurul menyatakan, Puskemas Dupak memang menampung juga pasien yang terinfeksi HIV AIDS, karena disekitar wilayah puskesmas terdapat dua lokalisasi, yakni Bangunsari dan Tambakasri, yang rentan sekali terkena masalah penyakit seks menular (PSM).
Pasien yang terkena penyakit kelamin atau PSM, akan dirawat dan dilayanani klinik kesehatan reproduksi. Hingga kini layanan kesehatan reproduksi tetap berjalan, meski rata rata pasien yang datang adalah para pekerja seks komersial. “Di klinik ini para pekerja seks komersial (PSK) rutin sebulan sekali datang untuk konseling dan kontrol,” jelas Nurul yang mengaku menjabat mulai 2005 lalu.
Menurut Nurul, Penyakit seks menular di wilayah Puskemas Dupak masih banyak ditemui. Bahkan di tahun 2012 lalu, terdapat 23 orang yang positif terjanngkit virus HIV-AIDS, dengan rincian 4 ibu rumah tangga yang tengah hamil dan 19 orang dewasa. “Keseluruhan pasien HIV AIDS yang dirawat tersebut, teridentifikasi saat melakukan pemeriksaan di poli umum dan kandungan”, katanya.
Ditempat yang sama, Asisten IV Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekkota Surabaya Eko Haryanto menuturkan, kunjungan Menkes merupakan bagian dari acara rakernas kesehatan. Kebetulan, tema utama rakernas adalah membahas masalah HIV-AIDS. “Puskesmas Dupak ini termasuk satu diantara empat puskesmas yang punya layanan penanganan HIV-AIDS. Nah, bu Menkes ingin melihat bagaimana penanganan HIV-AIDS yang ada di sini,” ungkapnya.
Di total 62 puskesmas dan 60 puskesmas pembantu yang ada di Surabaya, ada empat puskesmas yang menyediakan pelayanan penanganan HIV-AIDS. Keempat puskesmas yang dimaksud yaitu puskesmas sememi, perak timur, putat, dan dupak. Teknisnya, kalau ada penderita dari daerah lain dirujuk dahulu ke empat puskesmas itu. Baru kemudian diteruskan ke RSUD Dr. Soetomo sebab harus ada pendampingan dari puskesmas terlebih dulu.
Layanan HIV-AIDS yang diberikan oleh puskesmas, kata Eko, lebih pada pendampingan psikologis dan konseling bagi ODHA (orang dengan HIV-AIDS). “Dalam kinerjanya, puskesmas dibantu kader-kader yang selalu siap memberikan yang terbaik. Dan yang penting, semua layanan diberikan secara gratis,” ujarnya.
Mantan Kepala Dinas Sosial Surabaya itu juga mengungkapkan bahwa Dirjen Kementerian Kesehatan berniat membangun sistem pelayanan dan penanganan penderita HIV-AIDS. Sistem tersebut akan disinergikan dengan pelayanan yang sudah terbangun di puskesmas.(R7)