Nasionalisme Artifisial

Tidak ada komentar 341 views

Oleh : Tomy M Saragih

Saya menolak sebutan dari Sabang sampai Merauke karena selain Timtim sudah lepas dari Indonesia, hal penting lainnya bukankah matahari bersinar lebih dulu dari Merauke barulah menuju Sabang. Begitu juga dengan cara peningkatan nasionalisme di Indonesia yang kesannya hanya manis di lembaran kertas saja.
Walaupun nasionalisme kaitannya erat dengan pahlawan tetapi kita wajib memperhatikan keberadaan pahlawan disini. Seperti opini saya beberapa waktu lalu, siapapun dapat jadi pahlawan dan tampaknya hanya Indonesia saja yang memiliki puluhan ribu pahlawan karena sejak kecil kita didoktrin bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Jika benar demikian, apakah hal tersebut mampu meningkatkan nasionalisme kekinian?
Mari kita renungkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Dan Lambang Negara Serta Lagu Kebangsaan. Bagi saya, membaca undang-undang ini dapat membangkitkan nasionalisme walaupun dalam praktiknya keberadaan naskah ini tidak dipedulikan.
Silakan Anda cari tulisan singkat namun bermakna Mencermati “EYD” alias Ejaan Yudhoyono, secara seksama penulis wanita itu mengkritisi bahasa milik presiden. Jika dari pemimpin negara saja enggan menumbuhkan dan menunjukkan nasionalisme kepada bangsanya sendiri maka sudah dapat dipastikan seluruh WNI bersikap demikian. Secara pribadi, cara mudah untuk menunjukkan nasionalisme sehari-hari yaitu bangga menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Dengan bangga saya menunjukkan bahwa mampu berbahasa Jawa, Batak, sedikit Manado dan tentu saja Indonesia.
Ketika berkunjung ke perbatasan Atambua-Timor Leste, tampaknya nasionalisme begitu bergelora biarpun saat itu menjelang akhir tahun 2012. Sang Merah Putih gagah berkibar dan seluruh warga yang saya temui menggunakan bahasa Indonesia dicampur bahasa daerahnya.
Hal sama ketika seorang teman yang hampir mengelilingi seperdelapan dunia akibat pekerjaan kapalnya, ia mengatakan bahwa muncul libido pada saat kita berbicara bahasa Indonesia di negeri asing. Hal yang sama juga diutarakan seorang teman yang gemar memburu beasiswa luar negeri, ia pun berusaha menjadikan para bule tercengang-cengang dengan Indonesia.
Secara lugas dapat disimpulkan bahwa semakin jauh dari kehidupan modern seperti kota-kota besar Jakarta atau Surabaya dan semakin jauh dari bangsa sendiri maka otomatis rasa nasionalisme itu akan muncul sendirinya. Sebetulnya dalam mengatasi menurunnya nasionalisme saat ini, kita tidak perlu menyalahkan berbagai pihak.
Contoh mudahnya saja, hampir di setiap pintu masuk dan keluar pertokoan selalu ada tulisan in, out, open, push, pull, exit dan sebagainya. Begitu juga di toko buku, kebanyakan kamus bahasa Indonesia lebih mahal dari bahasa Jepang.
Kekacauan nasionalisme ini juga merambah dalam dunia hukum. Kita masih tega menghukum seseorang dengan WvS daripada berusaha menghasilkan WvS asli Indonesia. Nasionalisme saat ini lebih berkiblat pada emosi semata saja, contohnya saja ketika isu kuping menguping yang dilakukan Australia dan Amerika kepada Indonesia maka hampir sebagian dari kita geram. Dengan semangat 45, kita berusaha menghabisi negeri sekutu tersebut. Tetapi untuk hal-hal sepele yang walaupun tidak sepele menjadi luput dari perhatian.
Tanpa kita sadari juga, banyak bermunculan kursus bahasa asing daripada kursus bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ini akibat globalisasi dimana setiap negara berusaha merasuki negara lainnya dengan ciri khasnya tersendiri. Lantas jika pemerintah masih enggan berbahasa Indonesia dalam pertemuan-pertemuan internasional maka tidak ada bedanya kita dengan era kompeni dimana pengaruh bahasa sangatlah besar. Pahlawan berbanding lurus dengan nasionalisme sedangkan nasionalisme berbanding terbalik dengan pahlawan.
Jujur saja biarpun opini ini lebih cenderung mengkritik daripada memberikan solusi terbaik. Itu bukanlah salah Anda, tetapi emosi saya membuncah mengingat keramahan yang diberikan seorang pramugari asli Indonesia kepada seorang bule daripada warga negaranya sendiri.

*Dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya