Negeri Ini Butuh Pemimpin Dari Kaum Muda

Tidak ada komentar 349 views

Surabaya,(DOC) – Figur calon presiden (Capres) terus dimunculkan sejumlah partai politik. Kendati demikian, belum ada sosok pemuda di antara figur calon pemimpin bangsa yang kini ada.

Fakta ini diungkapkan Wakil Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Wahyuni Refi, disela Sarasehan Kebangsaan bertema “Resolusi 2014 Dari Pemuda Untuk Bangsa” yang digelar DPC Ormas Musyawarah Keluarga Gotong Royong (MKGR) Kota Surabaya dan Forum Masyarakat Cinta Damai (Formacida) Jatim, di Surabaya, Rabu(30/10/2013).

Menurut Refi, pasca kemerdekaan hingga pasca reformasi, peran pemuda di kancah politik Tanah Air masih minim. Bahkan nyaris tak ada. “Selama 30 tahun berada pada rezim diktator hingga reformasi, kondisinya tetap sama saja. Dalam sejarah tak ada pemuda memainkan peranannya sendiri,” kata Reni.

Refi mengaku tak sependapat dengan penyebutan reformasi terlaksana sebagai keberhasilan pemuda. Dia menilai asumsi tersebut terlalu berlebihan, karena seharusnya yang dilakukan pemuda saat ini, seiring reformasi berjalan, adalah meneguhkan kembali semangat Sumpah Pemuda dengan membuat blue print untuk menentukan arah bangsa. “Sekarang tidak punya blue print (arah bangsa) ke depan. Kita akan dilibas globalisasi. Jelang (pilpres) 2014 belum disikapi (pemuda). Atau setelah 2014?,” tanyanya.

Dengan kondisi ini, jelas Refi, 98 persen akibat kegagalan kaum muda. “Setelah reformasi, hingga kini pemuda tak berani mengambilalih peranan. Ada pemaafan. Yang tua boleh asal berjiwa muda. Faktanya, disaat ada pemuda yang bisa masuk pusaran kekuasaan justru terlibat korupsi. Ini jadi kegalauan kita. Pemuda sudah tidak sesuai semangat 1908,” paparnya.

Refi menginginkan ada pemuda di antara rentetan capres yang ada. “Sebenarnya bertepatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini, saya harapkan ada konggres pemuda untuk membuat blue print. Faktanya tidak. Pemuda tak bisa menunggu, tapi rebut (peranan kepemimpinan nasional),” pungkasnya.
Senada dengan Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair) Hari Fitrianto yang menilai belum munculnya figur pemuda pada kancah kepemimpinan nasional, lantaran pemuda sekarang dihadapkan dengan konsumerisme. “Saya tanya ke anak muda, kemana saat malam minggu. Rata-rata menjawab ke mal. Prilakunya konsumtif dan pragmatis. Ini membuat mereka sebagai manusia satu dimensi, dimensi kemakmuran sekaligus sensasi,” tukas Hari.

Hari menginginkan pemuda sekarang seperti sebelumnya. Saat pra kemerdekaan, pemuda mencetuskan Tritura, dan saat reformasi menyuarakan pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). “Yang dibicarakan pemuda sekarang adalah kasus korupsi, Buda Putri dan lainnya. Seharusnya yang menjadi pemikiran seperti 1928,” sebutnya.

Dalam disikusi yang berlangsung di hotel Meritus Surabaya itu, juga menarik Ketua Balitbang DPP Partai Golkar Indra Jaya Piliang untuk bicara, mengingatkan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga. Banyak pemangku kebijakan berpeluang besar. Bisa melalui pemerintahan daerah bersamaan otonomi daerah, panggung politik. “Kesempatan luas, tinggal pemuda pilih yang mana,” tandasnya.

Sementara itu, Penasehat DPC Ormas MKGR Surabaya Adies Kadir mengakui bila saat ini Indonesia telah banyak kehilangan tokoh muda yang semula diharapkan mengganti tokoh senior. “Setelah semula moncer, akhirnya kesandung. Hampir diseluruh partai terjadi. Tidak perlu saya sebutkan. Ada apa dengan pemuda sekarang. Jabatan punya, harta punya. Itu karena ngawur,” cetus Adies Caleg DPR RI Partai Golkar, Dapil 1 nomer urut 5.(r7)