Nenek Sebatang Kara “Mbah Mani” Berterimakasih Ke TNI, Berkat TMMD Rumahnya Tak Bocor Lagi

foto : Mbah Mani Menerima Bantuan Paket Bingkisan

Lumajang,(DOC)- Seorang nenek berusia 74 tahun bernama ‘Mbah Mani’ yang hidup sebatang kara di dusun Jabon, desa Tulungrejo, Pasrujambe, Lumajang Jawa Timur, nampak berkaca-kaca dan terharu ketika rumahnya di kunjungi Brigjen TNI-AD, Bramantyo Staf Ahli KASAD Mabes TNI bersama rombongannya.

Petinggi TNI AD ini, memang tengah berkunjung ke sejumlah lokasi pelaksanaan TMMD ke 102 di wilayah Kodim 0821 Lumajang, Jumat(20/7/2018) kemarin.

Rumah Mbah Wani merupakan salah satu penerima program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) untuk sasaran lokasi rumah tinggal layak huni (RTLH).

Dalam kesempatan itu, Mbah Mani mengucapkan rasa syukurnya, karena rumahnya telah dibenahi dengan baik.

“Terimakasih kepada bapak-bapak TNI yang selama ini telah mewujudkan segala bantuan yang saya terima, muda-mudahan atas segala pengorbanan yang tulus selalu diberikan keberkahan dari Allah SWT,” ungkap Mbah Mani yang selama ini bertahan hidup dengan membuat dan menjual sapu lidi.

Ia mengaku, sebelum ada program RTLH dari TMMD 102 Kodim 0821 Lumajang, rumahnya sering bocor dan tak tidur ketika hujan turun pada malam hari.

“Saya tidak bisa tidur karena air masuk melalui atap yang banyak lubangnya.” terang Nenek yang tak memiliki cucu dan sudah lama ditinggal pergi suaminya karena meninggal.

Selain menjadi sasaran program RLTH dari TMMD ke-102 Kodim 0821 Lumajang, Mbah Mani juga mendapatkan paket bantuan yang diserahkan langsung oleh Brigjen TNI Bramantyo.

Program TMMD dianggap Mbah Mani tepat sasaran, karena selama ini dirinya tak pernah berfikir untuk bisa membenahi rumahnya.

Ia hanya memikirkan bagaimana produksi sapu-sapu lidinya bisa laku untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

“Saya bikin sapu lidi ini untuk dijual, hasilnya hanya cukup untuk keperluan biaya hidup sehari-hari pak”, papar Mbah Mani dihadapan para pejabat TNI ini.

Fisiknya yang sudah renta sering dikeluhkan nyeri dan sakit. Namun dirinya tak pernah berhenti membuat sapu lidi dari batang daung kelapa yang diikat, kemudian dijualnya berkeliling disekitar dusun dengan berjalan kaki.

“Pasrah saja. Kadang dengan nahan sakit ditulang sikil(kaki), terasa nyeri dan linu,” celetuknya.

Dalam se-hari, Mbah Mani bisa membuat 3-4 ikat sapu lidi dan dijualnya ke dusun Tawon Songo yang jaraknya lumayan jauh.(mam/r7)