Pakde Karwo Bela Petani Tembakau Jatim

Tidak ada komentar 158 views

Surabaya, (DOC) – Petani tembakau saat ini menjadi perhatian khusus Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo. Ini karena tingkat kehidupan mereka tidak stabil. Artinya bila musim panen mereka bisa menjadi milyader, setelah itu mereka kembali menjadi masyarakat marjinal.
Keadaan tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya tidak adanya standarisasi mutu tembakau sehingga hasil panen mereka tidak bisa dijual ke pabrik rokok besar, dan mereka kalah bersaing dengan mutu tembakau impor. Pada musim tanam, untuk pembelian bibit mereka sangat tergantung pada modal yang disediakan para rentenir.
“Jumlah tembakau di Jawa Timur cukup besar, tetapi karena adanya impor tembakau besar-besaran dan tidak ada batasnya menyebabkan produksi tembakau kita minus 154 juta USD, hal ini perlu penanganan serius dan secepatnya” ungkapnya saat menghadiri Silaturahmi dengan Petani, Kopwan dan Posdaya untuk Peningkatan Daya Saing serta Kesejahteraan Petani di wilayah Bakorwil III Malang, di Gedung Serbaguna Kaliwates Jember, Senin (22/7/2013).
Untuk menanggulanginya, Pakde Karwo berinisiatif dan upaya ini satu-satunya yang dilakukan oleh pemerintah daerah di Indonesia, yakni mengadakan perjanjian atau MoU antara Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Bank UMKM dan Dinas Perkebunan sebagai regulator, Asosiasi Petani Tembakau Kasturi (APTK) dan Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) disebut pula dengan perjanjian Tri Partit.
Perjanjian tersebut mengatur tata cara regulasi pertembakauan, dengan tujuan agar petani tembakau keberadaannya terjamin dan tidak tergantung pada rentenir. Bank UMKM menyediakan permodalan untuk pengadaan bibit, pupuk, opersional selama tanam sampai musim panen. Pabrik rokok menyediakan bibit sesuai dengan standar yang diperlukan, pupuk, dan teknisi penggarapan. Sedangkan petani sebagai penggarap, Dinas Perkebunan sebagai regulator.
Sebelum masa panen, antara petani dan pemilik pabrik rokok menentukan harga hasil panen dengan cara range. Artinya ditentukan harga paling tinggi dan paling rendah. Apabila hasilnya berada di tengah-tengah antara tertinggi dan terendah, maka diharapkan petani akan sejahtera. Setiap petani akan dijadikan sebagai nasabah Bank UMKM, sehingga hasil penjualan akan langsung masuk pada rekening masing-masing. (hms/r4)