Pameran Lukisan Karya Penyandang Disabilitas Mental

Psikolog Klinis memaparkan makna lukisan abstrak penyandang disabilitas mental

Surabaya, (DOC) — Menyandang gangguan mental atau kejiwaan tidak menghalangi seseorang untuk berkarya secara bebas dan kreatif. Mereka bisa menumpahkan emosi jiwanya melalui seni, salah satunya lukisan abstrak di atas kanvas.

Nah, pameran lukisan seperti ini menjadi sesuatu yang jarang kita temui. Tapi, selama menyambut hari Natal dan liburan akhir tahun pameran lukisan kaum disabilitas mental ini bisa kita saksikan di galeri Artotel Jalan dr. Soetomo Surabaya.

Pameran lukisan bertema ‘There’s a Hope for a better Mental Disability’ ini berlangsung mulai Selasa (28/11) hingga 28 Januari 2018. Pengunjung serta tamu hotel disajikan dengan 10 lukisan karya sepuluh pasien kejiwaan dari RS Jiwa Suharto Heerdjan Grogol Jakarta Barat. Lukisan yang tertuang di atas kanvas ukuran sekitar 25×40 cm itu temanya senada yaitu abstrak.

“Karya lukis dari RS Jiwa Grogol ini disebar di tiga Artotel yang ada di Jakarta, Bali, dan Surabaya,” ungkap Grantika Buchenanda, Public Relation Artotel Surabaya.

Salah satu lukisan yang menarik lagi ialah buatan dari dua orang pengidap mental disabilitas, Mahendra Ariana (35) dan Dafit Influenzsa (24) yang merupakan mantan pasien skizofrenia. Lukisan abstrak yang menggambarkan kondisi alam pedesaan dengan dominasi warna hijau serta biru tampak cantik menempel di tree of hope atau pohon harapan. Karya ini terpasang di lobi hotel.

“Pemilihan warna dari lukisan ini memang menunjukkan proyeksi jiwa seseorang. Kalau pemilihan warna-warna gelap (hitam / abu-abu) itu cenderung menunjukkan kesedihan atau suatu keadaan tertekan. Tapi bila sedang rileks atau calmdown maka didominasi warna segar seperti hijau, biru atau putih,” ujar Psikolog Klinis RSJ Menur Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi yang ditemui di Lobi Artotel, Selasa (28/11/2017) sore.

Menurut Danang, jika seseorang bisa memilih macam-macam warna, artinya dia sudah bisa memahami perasaannya sendiri. Selain itu, menggambar bebas jasanya juga menjadi salah satu metode terapi penyembuhan bagi pasien kejiwaan yang digunakan beberapa rumah sakit.

“Bagi penderita skizofrenia, kegiatan menggambar ini merupakan salah satu bentuk terapi penyembuhan karena membantu mengurangi ketegangan pikiran. Namun, yang utama adalah lewat medis,”imbuhnya.

Berbagi Lewat Tembok Harapan

Tak hanya memamerkan lukisan, Artotel juga mengajak masyarakat khususnya tamu hotel untuk berbagi untuk saudara pengidap disabilitas mental Surabaya. Bagi tamu atau pengunjung yang hendak berbagi juga bisa sekaligus menyampaikan doanya dan harapan di tahun 2018 lewat papan harapan atau hope board Artotel.

“Caranya gampang, tulis harapan di selembar kertas lalu temple di hope board atau papan harapan. Setiap stick note yang ditempelkan tamu kami harap ada donasi sebesar Rp 5.000,” terang Buchenanda.

Selain itu, tamu juga bisa mendapatkan postcard bergambar lukisan abstrak karya penderita RS Jiwa Grogol. “Per paket seharga Rp 10.000 tamu bakal mendapatkan empat kartu pos dengan gambar berbeda-beda,” imbuhnya.

Nah dari seluruh dana yang terkumpul nanti akan disumbangkan sepenuhnya kepada Liponsos Keputih Surabaya dan yayasan kejiwaan lainnya di Surabaya. “Sebenarnya ini merupakan bentuk charity kami yang setiap tahunnya kita lakukan sekaligus sebagai suatu CSR (corporate social Responsibility) kami,” pungkas Buche. (nps)