Pancasila Harus Lebih Tinggi Dari Pilar Lainnya

Tidak ada komentar 220 views

Surabaya, (DOC) – Pancasila yang selama ini diangung–angungkan untuk menjaga kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI) mulai keluar dari ruh para pendiri Bangsa. Nilai perjuangan yang tercantum dalam lima sila didalam Pancasila sudah berubah saat era orde baru (orba), hanya menguntungkan beberapa elit politik serta para penguasa dan pengusaha.
Hal tersebut di utarakan oleh Win Ariga aktivis KAMMI dalam diskusi di Kampus Universitas Brawijaya (Unibra) dengan tema “kritis 4 pilar bangsa”.
“Pancasila adalah produk menyeramkan orde baru semua orang pasti tahu apa itu Pancasila, namun bagaimana kabarnya Pancasila saat ini banyak yang tidak mengetahuinya,” kata Ariga, Kamis (27/2/2014).
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa ini terjadi karena kesalahan kita dalam memperlakukan Pancasila, Presiden Soekarno mensejajarkan Pancasila dengan ideology lain, lahirlah konsep Nasakomnya Bung Karno.
Di jaman Soeharto dengan konsep P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), Pancasila dijadikan produk politik, jika menentang Negara (Presiden), berarti menentang Pancasila, dijuluki mereka ini ekstrimis baik kiri maupun kanan, karena begitu lamanya ini menjadi senjata penguasa, masyarakat menganggap Pancasila sosok yang menyeramkan.
Sementara diawal-awal refromasi Pancasila dibuang, sehingga tidak ada kewajiban bagi parpol mencantumkan Pancasila sebagai asas. “Sementara saat ini Pancasila hanya sebagai proyek yang dikemas dalam sosialisasi, dan hanya menguntungkan bagi sekelompok elit,” ujar aktivis KAMMI Malang ini.
Sementara itu M Lukman Hakim, S.IP, MSi, dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unibra, MPR jika kerjanya hanya sosialisasi empat pilar, dimana didalamnya ada Pancasila adalah tindakan yang tidak negarawan, ini merendahkan martabat MPR, sebab MPR menjadi seperti EO. Selain seperti EO, MPR juga mempermainkan Pancasila.
“Bila Indonesia itu sebuah rumah, maka ada pondasi, pilar dan atap. Dengan menempatkan Pancasila sebagai pilar, bersama UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Itu sama saja menempatkan Pancasila dalam posisi bisa dirubah,” terangnya.
Menurutnya 3 dari empat pilar semua pernah mengalami perubahan, UUD 1945, selama masa-masa awal reformasi diamandemen sebanyak 4 kali, NKRI juga berubah-ubah dulu kita punya Timor Timur dan sekarang tidak punya. Sementara Bhineka Tunggal Ika, menyalahi arti yang terkandung dalam kitab Sutasoma Karya Empu Tantular, berbeda dalam Bhineka adalah perbedaan keyakinan, bukan sepert saat ini. (r4)