Paripurna Pemilihan Wawali Tetap Buntu

Tidak ada komentar 140 views

Surabaya, (DOC) – Paripurna lanjutan untuk melakukan pemilihan wawali Surabaya pengganti Bambang DH, sejak pukul 11.00 sampai siang ini, belum juga terlaksana.
Sementara Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang hadir sejak pukul 11.00, akhirnya memutuskan meninggalkan gedung DPRD Surabaya sekitar pukul 12.00. Alasannya, wali kota harus menghadiri acara pembukaan Pekan Kreatif Srikandi di atrium Rainbow ITC.
Risma sapaan akrab wali kota, turun dari ruang paripurna didampingi Kapolrestabes Surabaya Setija Junanta dan Ketua DPRD Surabaya Mochammad Machmud.
Kepada wartawan, Risma mengaku ada kegiatan lain yang menuntut kehadirannya. Bahkan sampai pukul 13.00, paripurna pemilihan itu belum digelar.
Di luar ruang paripurna, petugas kepolisian dengan pengamanan terbuka dan tertutup masih berjaga-jaga. Hanya saja, saat ini, petugas kepolisian tak memasang pagar berduri di depan kantor dewan, sebab saat ini memang tak ada agenda demonstrasi.
Namun kondisi ini memang membuat beberapa kalangan jenuh. Bahkan ada yang bersuara, “Ya begini ini kalau urusan rakyat ditumpangi kepentingan pribadi.”
Risma sendiri mengakui, dengan molornya paripurna pemilihan ini akan semakin menghambat pembahasan RAPBD 2014.
“Kalau seperti ini, pembahasan RAPBD pasti molor. Kita tak menginginkan hal itu, sebab akan berimbas juga pada rencana pembangunan. Kan tahun lalu sudah terlambat, jangan sampai tahun ini terlambat lagi,” aku Risma.
Risma juga meyakini jika pembahasan RAPBD ini molor, maka sudah bisa dipastikan kalau PAK akan menambah anggaran lagi.
“Semua itu kan sudah dihitung, kalau terlambat, pasti PAK akan nambah lagi. Saya kaget juga mengetahui itu,” ungkap Risma.
Sementara Ketua Fraksi PDS Simon Lekatompessy meyakini jika paripurna itu pasti digelar pada Kamis (7/11/2013) siang ini, sekitar pukul 14.00.
“Saya yakin, jam 14.00 pasti digelar,” seraya berbisik.
Di sisi lain, Panlih Wawali dikritik masyarakat. Sebab dua calon yang dipercaya jadi wawali, memiliki muara kasus yang sama di kepolisian.
Wisnu Sakti Buana telah dilaporkan ke Polda Jatim terkait penggelapan dana pelicin untuk mengelola ponten di terminal Purabaya dan Syaifudin Zuhri dilaporkan kasus penganiayaan di Polrestabes Surabaya terkait kasus sama hingga melakukan pengeroyokan.
Di Polda, kasus itu di SP-3 tanpa keterangan yang jelas. Sementara kasus di Polrestabes dianggap sudah ada perdamaian atas kasus pengeroyokan itu. Perdamaian yang dilakukan Syaifudin karena telah mengembalikan mobil APV ke pelapor. Padahal pada kasus itu sudah ada tersangka yang menjalani hukuman, tapi tidak demikian untuk Syaifudin Zuhri yang tetap bebas.
Terkait masalah hukum, pengembalian barang itu tentu tak mengapus kasusnya, apalagi kasus itu murni kriminal, bukan delik aduan. (co/r4)