Pedagang Resah, Siap Bergabung Aksi Penolakan Penutupan Dolly

Surabaya,(DOC) – Keresahan akan rencana penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak oleh Pemerintah Kota Surabaya mulai melanda pedagang pasar tradisional Kupang Gunung atau yang biasa disebut Pasar Jarak.
Pasar tradisional bernama Kupang Gunung yang berlokasi di Jalan Putat tersebut menjadi tempat berbelanja kebutuhan pokok warga Dolly, Jarak dan sekitarnya, termasuk para PSK. Jika kita melewati jalan Putat, riuh gemerlap lokalisasi Jarak akan tergantikan oleh ramainya pedagang pasar pada pagi hari. Berbeda pada pasar tradisional lainnya, pada pasar Jarak Kita bisa melihat puluhan perempuan berdandan menor yang sedang berbelanja kebutuhan pokok dan sayur mayur. Mereka adalah para PSK lokalisasi Dolly dan Jarak. Usai bekerja menjajakan diri pada malam hari, menjelang pagi biasanya mereka menyempatkan diri berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Jarak.
Pemandangan seperti diatas tidak akan kita lihat jika rencana Pemerintah kota Surabaya menutup lokalisasi Dolly dan Jarak terlaksana pada 19 Juni 2014 mendatang.
Rencana penutupan lokalisasi ditangkap oleh pedagang pasar Jarak sebagai penurunan penghasilan. Betapa tidak, para pedagang akan kehilangan pelanggan dari para PSK yang berjumlah ribuan tersebut.
Fauzi salah satu pedagang ayam potong Pasar Jarak mengaku resah dengan rencana penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak tersebut.
Ia menyatakan, selama ini kebanyakan pelanggan ayam potongnya dari warga sekitar dan sebagian besar adalah PSK. “Penutupan lokalisasi itu jelas berdampak pada kami (pedagang pasar Jarak) mas, karena pelanggan kami selain warga sekitar, sebagian besar adalah PSK,” ujar Fauzi,Rabu(14/5/2014).
Fauzi mengaku setiap harinya satu kwintal ayam potong bisa terjual habis. Namun pasca penutupan nanti, dipastikan penjualan akan menurun. Sehingga rencana penutupan lokalisasi tersebut telah menjadi pembicaraan para pedagang pasar, yang kini mulai resah.
“Pedagang di sini sudah mulai rame ngomong soal penutupan itu mas. Kita takut berimbas pada merosotnya penghasilan,” ujar bapak satu anak tersebut.
Ia menegaskan, secara pribadi, dengan tegas ia menolak rencana penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak. Dirinya juga akan bersedia bergabung dalam gerakan menolak penutupan lokalisasi.
“Saya menolak penutupan lokalisasi mas, karena ini menyangkut kebutuhan hidup kami,” ujarnya dengan berapi – api.
Pernyataan Fauzi, salah satu pedagang pasar Jarak ini, merupakan gambaran dari ratusan pedagang pasar sekitar lokalisasi Dolly yang sudah mulai resah. Jika hal ini terus bergulir, maka massa penolakan penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak akan bertambah besar. Ada baiknya Walikota Surabaya mempertimbangkan target waktu penutupan, agar bentrok dapat dihindari.(r7)