Pedagang Tempe Pilih Jualan Daging

Tidak ada komentar 225 views

Surabaya, (DOC) – Warning para pengusaha tahu-tempe yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Tahu Tempe (APTT) untuk melakukan aksi mogok berproduksi selama 2 hari, terhitung mulai kemarin Senin (9/9/2013), sampai dengan hari ini, Selasa (10/9/2013), nampaknya bukan sekedar ancaman.
Dari pantauan di beberapa pasar tradisional di Surabaya, Selasa,(10/9/2013) hari ini, makanan berbahan baku kedelai tersebut sudah hilang dari peredaran. Seperti yang terpantau di pasar Soponyono Rungkut, Sri (38) salah satu pedagang tahu-tempe sudah 3 hari ini tidak berjualan tahu-tempe karena menurutnya keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan saat dirinya membeli (kulakan) tahu-tempe kepada produsen.

“Mendingan saya nahan diri untuk sementara waktu tidak jualan tahu-tempe dulu mbak, daripada saya malah rugi tak dapat untung. Kulakan nya saja sudah mahal, terus saya mau jual berapa,” keluh Sri, Selasa (10/9/2013).

Begitu juga di pasar Semolowaru Surabaya, yang juga tidak nampak satupun penjual tahu tempe. Yono (25) salah seorang penjual tahu tempe mengaku, hampir 5 hari ini, dirinya tidak lagi berjualan tahu tempe karena harganya yang sudah sama seperti harga daging sapi.
“Jualan daging sapi aja mbak, sudah jelas masih dapat untung meskipun sedikit, daripada jualan tahu tempe, kulakannya sudah mahal tapi gak untung,”katanya.

Di sisi lain, hal serupa juga diakui Ismail, Pemilik UD Asal Lancar, salah satu produsen tahu tempe, yang mengaku bingung akan menjual berapa harga tahu tempenya, mengingat harga kedelai saat ini yang sudah melambung tinggi.

“Jujur, kami memang tetap berproduksi tapi kami juga tidak mungkin langsung menaikkan harga ke konsumen, karena kami yakin sudah pasti tidak ada yang beli. Jalan satu-satunya memperkecil ukuran dan mengurangi produksi kami sampai 20-30%, untuk bisa menyambung hidup para pekerja,” jelas Ismail.

Ismail berharap dengan situasi saat ini, pemerintah segera bertindak untuk mestabilkan harga kedelai. Jangan mengorbankan masyarakat kecil terus dengan situasi perekonomian yang tidak menentu ini.(k8/r7)