Pembangunan Apartemen One East Residence Mulai, Warga Protes

Surabaya,(DOC) – Rencana pembangunan Apartemen One East Residences di Jalan raya Kertajaya Indah 79 (eks kantor MNC Grup), tampaknya bakal dihadang banyak masalah. Setelah dikabarkan belum mengantongi IMB dan ijin HO, apartemen yang akan dibangun 30 lantai ke atas dan 3 lantai ground, kini muncul protes dari warga sekitar yang terganggu oleh pembangunan apartemen.

Dokter Hendrian Dwikoloso Subagjo, pemilik rumah sebelah apartemen tersebut menyatakan, sebenarnya dirinya tidak ada masalah dengan rencana pembangunan apartemen tersebut. Tapi dalam perjalanannya pemasangan pondasi apartemen tersebut berdampak retak-retaknya bangunan rumahnya.

“Aktivitas proyek sebenarnya sudah lama, tapi kita tak persoalkan meski bangunan rumah saya retak-retak sedikit. Tapi tata caranya jangan seperti itu. Apalagi mereka ngomong, bahwa pembangunan apartemen ini tak perlu ijin dari warga bisa berdiri. Itu yang bikin kita kaget,” ungkapnya.

Ditanya apa pernah dimintai izin terkait rencana pembangunan apartemen tersebut, Hendrian mengaku bahwa belum pernah ada utusan untuk meminta izin kepadanya selaku warga sekitar yang memungkinkan terkena dampak pembangunan.

“Rumah saya bersebelahan dengan bangunan itu, saya tidak pernah dimintai izin. Hanya saja dulu ada surat pemberitahuan saja. Tiba-tiba mereka pasang tiang pancang besar-besar, jelas mengganggu keluarga kami. Apalagi ibu kami lagi sakit,” tegasnya.

Disamping suara pemasangan tiang pancang yang mengganggu, juga takut kalau ada apa-apa terhadap pembangunan apartemen tersebut, karena dokter Hendrian yang juga Humas RS Graha Amerta dr Soetomo tersebut khawatir akan terjadi seperti ambruknya Pasar Tanah Abang belum lama ini.

“Kami sudah lama tinggal disitu. Saya juga heran apakah Pemkot Surabaya memberi izin bangunan yang belum ada izin lingkungan,” tuturnya.

Lebih jauh dikatakan, pihak Apartemen One East Residences belum pernah membicarakan soal pembangunan tersebut dengan warga sekitar. Misalnya, jika suara bising itu apa bisa diatur jam kerjanya, mengingat dekat dengan pemukiman. Selain itu, ketika alat berat merusak bangunan rumah warga, yang disuransikan itu bangunannya atau penghuninya.

“Pihak apartemen tak bisa menjelaskan soal ini. Kita tunggu jawaban mereka, tapi tiba-tiba muncul rencana Ground Breaking (peletakan batu pertama) One East Residences, Kamis (24/10/2013) hari ini, yang dihadiri CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dan Walikota Tri Rismaharini,” ungkapnya, seraya menambahkan, jika Clinic Miracle yang juga berdekatan dengan proyek melakukan komplain dan akan melakukan gugatan.

Selasa (22/10/2013) lusa kemarin, Pihaknya sempat melayangkan surat kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Ketua DPRD Surabaya Moch Machmud untuk masalah ini. Apakah daerah tersebut RTRW-nya boleh dibangun apartemen 30 lantai, padahal sebelahan dengan rumah tinggal.
“Harapan kami walikota dan dewan memfasilitasi hal-hal apa yang jadi kewajiban masing-masing,” imbuhnya.

Saat dikonfirmasi kemarin, Ketua DPRD Surabaya M. Machmud yang kini sudah berangkat kunjungan, mengatakan surat keluhan warga Kertajaya yang protes terhadap pembangunan Apartement itu, rencananya akan di tindak lanjuti. “Idealnya persyaratan berupa perizinan harus dipenuhi terlebih dahulu. Kalau tetangganya gak mempersoalkan kan enak,” katanya.

Machmud membenarkan jika warga meminta pembangunan itu dihentikan sebelum IMB dan HO keluar. “Saran saya, keluhan warga harus dipenuhi dulu. Warga diajak bicara dulu sampai ada kesepakatan. Pemkot juga harus berfikir ulang, apakah pembangunan ini bisa dilanjut atau tidak?” tandasnya.

Saat ditanya soal perlunya persetujuan warga terkait kawasan bisnis, dengan tegas Machmud membantahnya. Ia menjelaskan suatu usaha yang akan buka di kawasan bisnis sekalipun, persetujuan lingkungan sekitar adalah hal yang utama. “Bahkan masuk kedalam syarat pengurusan IMB” cetusnya. (r12/r7)