Pembangunan Masjid Assakinah Dimulai Lagi, Dewan Sepakat

foto : Eri Cahyadi jelaskan soal desain masjid Assakinah di komisi C DPRD kota Surabaya

Surabaya,(DOC) – Pembangunan masjid Assakinah yang terletak di kompleks DPRD kota Surabaya tetap akan dilanjutkan, meski kini tengah menuai pro-kontra dari sejumlah organisasi masyarakat(Ormas) terkait desain – nya.

Kepastian ini diputuskan dalam rapat dengar pendapat(hearing) antara Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (Perkim CKTR) kota Surabaya dan pihak kontraktor pelaksana yang diundang oleh Komisi C DPRD kota Surabaya, Selasa(14/11/2017).

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Perkim CKTR kota Surabaya, Eric Tjahyadi mengatakan, pembangunan masjid akan dilanjutkan kembali Rabu(15/11/2017) besok.

Harapannya, pasca hearing di komisi C ini, masyarakat bisa mengetahui bahwa masjid Assakinah itu akan tetap ada.

Eric menambahkan terdapat perubahan design masjid yang akan dibangun nanti, yaitu menambah lagi sebuah menara di depan masjid.

“Ini sesuai permintaan dewan. Penambahan menara masjid itu pastinya akan menambah indah desain masjid, karena menaranya menjadi dua,” ungkap Eric.

Masjid Assakinah akan mempunyai luas 17 meter x 29 meter yang mampu menampung 300 jemaah. Desainnya, lanjut Eric, gedung masjid akan berada dilantai 1 dan gedung diatasnya akan digunakan sebagai ruang kerja sampai ruang pertemuan dengan konstituen untuk masing – masing anggota DPRD kota Surabaya.

Rencananya denah masjid akan di pasang disekitar proyek agar seluruh masyarakat bisa mengetahui nya secara jelas.

“Pembangunan Masjid As-Syakinah menjadi prioritas dari pembangunan gedung baru dewan. Tapi dirinya belum memastikan kapan selesainya,” katanya.

Sementara itu, menyinggung soal anggapan sekelompok masyarakat terhadap desain masjid yang tidak layak karena keberadaannya dibawah gedung baru anggota DPRD 8 lantai, hal itu disepakati bukan persoalan yang urgent.

Sejumlah anggota dewan berpendapat, mengacu pada keberadaan Masjid Al Akbar yang disekitar bangunannya dikelilingi oleh sentra ekonomi.

“Masjid didalam perkantoran itu tidak masalah, seperti Masjid Al Akbar. Hanya saya meminta agar diperhatikan betul batas dan tempat wudhlu, karena itu merupakan bagian terpenting dari kekhusukan sholat,” ujar Masduki Toha Wakil Ketua DPRD Surabaya, yang turut hadir dalam hearing itu bersama Ketua DPRD Kota Surabaya, Ir. Armudji dan 2 Wakil Ketua lainnya.

Ditegaskan lagi oleh Ketua Komisi C DPRD kota Surabaya, Saifudin Zuhri, bahwa pembatas antara jemaah pria dan wanita memang harus diperhatikan desain pembuatannya, jangan sampai menggunakan bahan yang asal-asalan.  “Jangan hanya memakai batas seadanya apalagi batas itu tidak tinggi hanya separuh badan. Batas harus penuh dan permanen,” pungkasnya.

Terpisah, Wakil Wali kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana mengkritik sikap sejumlah anggota dewan yang terkesan memprotes renovasi pembangunan masjid Assakinah, dengan alasan tak mengetahui desain hingga lokasi pembangunan masjid.

Menurut Whisnu, sikap dewan ini dianggap kontradiktif dengan fungsi control anggota legislative terhadap pembangunan dan kemajuan kota kedepan.

“Sangat tidak masuk akal kalau sejumlah anggota dewan tidak mengetahui desain masjid. Karena tugas dia-kan mengkontrol seluruh kinerja eksekutive, tapi kenapa sekarang alasan tidak mengetahui. Malah proyeknya di lingkungan kerjanya. Ini kan sama saja dengan orang ‘nglindur’,” kelakarnya dihadapan para Jurnalis di ruang kerjanya, Senin(13/11/2017) kemarin.(rob/r7)