Pembunuh Ade Sara, Pasangan Psikopat

Tidak ada komentar 137 views

Jakarta, (DOC) – Tersangka pembunuhan berencana atas Ade Sara Angelina Suroto yakni Ahmad Imam Al Hafitd dan Assyifa Ramadhani diduga memiliki jiwa psikopat. Dugaan ini muncul terkait dengan beberapa keanehan dari kedua pelaku yang seolah-olah tak menyesali perbuatannya, bahkan saat diperiksa oleh penyidik di Polresta Bekasi Hafitd dan Syifa, masih bisa tertawa lepas.
Selain itu dugaan kedua pelaku adalah psikopat ditunjukkan dengan pembunuhan yang sudah direncanakan seminggu sebelum mayat Ade Sara ditemukan di Tol Bintara, Bekasi. Keanehan lainnya adalah ketenangan yang diperlihatkan kedua pelaku dengan cara mengucapkan belasungkawa melalui sosial media, melayat jenazah, dan menyimpan kertas yang berisi kalimat tak pantas di peti jenazah Ade Sara.
Psikolog Pendidikan Diennaryati Tjokrosuprihatono, melihat kasus ini adalah contoh dari gagalnya pendidikan yang diberikan oleh orang tua dan sekolah kepada kedua pelaku khususnya untuk pelaku pria yang menurut Dien adalah ‘otak’ dari pembunuhan berencana ini. “Saya melihat Hafitd ini cenderung memiliki kepribadian psikopatik dan agak sadistik, untuk Syifa sendiri saya melihatnya ia terlalu dipengaruhi oleh Hafitd dan rasa insecure yang tak mau kehilangan cintanya Hafitd yang memaksa ia mengikuti pembunuhan tersebut,” ucapnya.
“Mereka ini kurang mendapatkan pengetahuan moral, kasih sayang dan mungkin mereka sehari-harinya mengalami atau melihat kekerasan rumah tangga . Yang saya harapkan ketika kedua pelaku ini keluar dari penjara nanti, keluarga harus merencanakan bagaimana mengajarkan si anak kasih sayang dan hati nurani, bukan hanya tertahan di teori saja, namun harus diaplikasikan dengan perilaku,” tambah anggota dari Himpunan Psikologi Indonesia ini.
Sementara, Adrianus Meliala, Kriminolog asal Universitas Indonesia, menilai kasus ini terlalu dibesar-besarkan. “Peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi. Saya hanya bisa mengimbau dengan kasus ini masyarakat dapat mengambil pelajaran agar kasus ini tak terulang kembali. Wajar saja ada kasus seperti ini. Ini bukan yang pertama kali, hanya mungkin yang terekspos media yang sekarang ini,” ucap Adrianus.
Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) ini juga mengatakan sikap tenang Hafitd dan Syifa, bukan hal yang aneh. Menurutnya, hal itu terjadi karena pembunuhan ini terencana. Artinya, mereka sejak awal telah sadar apa resiko perbuatannya. Adrianus juga menambahkan, mereka seolah-olah tidak takut tindakan ini bisa mengubah hidup mereka. “Mungkin mereka malah berpikir bisa bersama bertahun-tahun di dalam penjara,” ucap Adrianus. Namun, ketika ditanya apakah kedua pelaku ini tergolong psikopat atau bukan, Adrianus mengatakan kedua pelaku masih belum bisa dikategorikan sebagai psikopat atau terganggu psikisnya. “Masih jauh kalau ke arah sana,” tambah Adrianus. (r4)