Pemkot Lemah Ambil Alih Proyek Pasar Turi

Tidak ada komentar 159 views

Surabaya,(DOC) Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengakui jika batalnya upaya pengambil-alihan proyek pembangunan Pasar Turi, akibat posisi Pemerintah Kota(Pemkot) terlalu lemah dalam kontrak perjanjian dengan pihak investor PT Gala Bumi Perkasa.
Isi perjanjian itu menyebutkan, perselisihan pedagang dengan investor bukan merupakan kewenangan Pemkot, guna percepatan pembangunan Pasar Turi. Untuk itu perlu revisi perjanjian agar tidak menjadi masalah dikemudian hari, terutama saat masa kontrak pengolahan lahan Pasar Turi berakhir. “Kami akan minta perbaikan kontrak lagi. Harapannya agar ada win-win solution. Jadi adil,” katanya, Rabu(15/10/2014).
Mantan kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini, menambahkan, untuk mengkaji kerjasama dengan investor, Pemkot Surabaya telah menerjunkan tim teknis dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang akan bekerja secara independen. Menurut Risma, Rekomendasi tim ITS ini, yang akan menjadi acuan re-negosiasi kontrak. “Kalau putus kontrak itu berat. Kata ahli juga berat itu. Tapi kalau sudah tidak bisa lagi bagaimana. Itu (putus kontrak.red) langkah terakhir menurut saran ahli. Jadi nanti perbaikan kontrak dulu. Saya akan revisi kontrak yang lama. Jadi pengelolaan dan pembangunan nantinya belum tentu mereka (PT Gala Bumi Perkasa,red),” ujarnya.
Ia mengingatkan kepada investor, dalam membangun stand Pasar Turi agar memperhatikan fungsi dan kegunaannya, bukan hanya mengejar kwantitas stand yang sudah terbangun. Tri Risma menjelaskan, dari target 6500 stand, pihak investor meng-klaim telah membangun 5700 stand. Namun masalahnya stand tersebut belum dilengkapi fasilitas penunjang lainnya, sehingga pedagang belum bisa menempatinya. “Pembangunan itu tidak pada stannya saja, tapi pada fungsi. Itu (stan) coba yang sekarang nggak ada gunanya. Fungsi perpasaran dan perdagangannya itu bagaimana. Sekarang tim teknis dari ITS sedang melakukan kajian. Kami nggak tahu berapa lama ITS mengkaji ini,” terangnya.
Sikap Pemkot yang membatalkan rencana pengambil alihan proyek pasar Turi, nampaknya menuai kritikan dari anggota DPRD Surabaya dari Fraksi PDIP. “Apa yang disampaikan Risma (batal mengambilalih Pasar Turi) akibat tidak berdasarkan kajian yang benar-benar matang. Atau mungkin berdasarkan persepsi sendiri. Kalau itu benar dan pas tidak masalah. Kalau tidak sesuai pasti menjadi masalah. Jadi pernyataan itu harus dari kajian yang matang,” katanya.(r7)