Pendakian Semeru Ditutup Mulai 1 Januari 2018, Ini Penyebabnya

ilustrasi(dok)

Lumajang,(DOC) – Pengelola Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Jawa Timur akan menutup sementara jalur pendaki Gunung Semeru per 1 Januari 2018.

Penutupan itu tertuang dalam surat pengumuman nomorPG.04/T.8/BIDTEK/BIDTEK.1/KSA/12/2017. Penutupan kegiatan pendakian Gunung Semeru ini untuk pemulihan ekosistem di sepanjang jalur pendakian dalam upaya menjaga dan memelihara keanekareagaman jenis tumbuhan dan Satwa Ekosistemnya.

“Dijalur pendakian banyak mengalami kerusakan serta kondisi cuaca cenderung semakin memburuk disertai hujan lebat dan adanya pohon tumbang,”ujar Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( TNBTS ) John Kenedie, Kamis(21/12/2017).

Penutupan jalur pendakian belum bisa dipastikan sampai berapa lama,”Kita belum bisa memastikan berapa lama penutupan akan berlangsung, kita lihat dengan tingkat kerusakan ekosistem dan pemulihannya.Tapi, merujuk pada tahun sebelumnya, penutupan sementara untuk pemulihan ekosistem berlangsung selama tiga bulan. “Bisa 2 bulan, bisa 3 bulan,” jelas John.

Selain itu, penutupan jalur pendakian ke puncak gunung tertinggi di pulau jawa bertujuan untuk pelestarian satwa liar jeis macan tutul, kijang, aneka  aneka jenis burung dan kupu kupu serta melestarikan aneka jenis tanaman rimba.

John berharap masa pemulihan ekosistem dengan cara menutup aktivitas pendakian Gunung Semeru bisa memberikan kesempatan pada anggrek-anggrek tersebut untuk berkembang.

“Jalur pendakian ditutup total sejak mulai dari Pos Ranupani, Ranu Kumbolo, hingga Kalimati,”imbuhnya.

Dia menambahkan, Sejak Januari hingga akhir November 2017, jumlah pengunjung mancanegara yang masuk berjumlah 22.602 orang, sedangkan wisatawan lokal sebanyak 551.346 orang. Total hingga saat ini ada 573.948 wisatawan yang datang baik dari manca maupun lokal.

“Total pendapatan sudah kita kumpulkan dari kunjungan wisatawan ke TNBTS mencapai Rp19.69 miliar. Dari target yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp 16 miliar selama tahun 2017,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Resort Ranu Pane, Agung Siswoyo menambahkan, jalur pendakian ke Gunung Bromo masih berbentuk hutan rimba. Sehingga butuh dipulihkan kondisinya. Kawasan hutan rimba di Gunung Semeru diyakini sebagai tempat berkembang biak macan Tutul dan harimau Jawa serta aneka satwa liar lainnya.

“Ketika ada pendaki masuk hutan rimba. Satwa liar tidak bisa bebas bergerak. Rumput tidak bisa berkembang biak dengan bebas. Akhirnya kijang makan seadanya. Harimau Tutul juga tidak bebas berburu mangsanya. Keputusan penutupan jalur pendakian Gunung Semeru sangat bagus untuk kelangsungan hidup mereka,”Sebut Agung.

Ditambahkan, awal musim kemarau tahun depan. Pengelola TNBTS akan melakukan pengamatan terhadap keberadaan Haraimau Jawa. Diduga populasinya disekitar Ranu Tompe atau Ranu Lus.

“Sebenarnya kita sudah memasang kamera di kawasan Ranupane, di Senduro dan beberapa titik lain untuk memantau keberadaan Harimau Jawa. Tapi belum mendapatkan hasil. Beberapa kamera diambil warga. Semoga pengamatan tahun depan bisa sukses,” pungkasnya.(mam/r7)