Penderita HIV di Vonis Bermoral Buruk

Tidak ada komentar 92 views

Surabaya , (DOC) – Stigma negatif masyarakat terhadap penderita atau orang dengan HIV/AIDS (ODHA), terus melekat dan nampaknya susah dihilangkan. Hal ini membuat pusing Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Surabaya, yang terus berusaha menghapus penilaian buruk terhadap ODHA.
Pekerjaan rumah(PR) yang tidak pernah selesai bagi KPA Surabaya yang diketuai oleh Wakil Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono(DH).
Pernyataan ini terungkap saat rapat koordinasi KPA di ruang sidang wali kota, yang digelar hari Kamis (13/12/2012).
Dalam kesempatan tersebut, Bambang DH menyatakan, sampai saat ini, stigma masyarakat terhadap ODHA itu tak berubah. Ini sangat disayangkan, apalagi kami mendapat laporan adanya penolakan warga terhadap ODHA di kawasan Surabaya Selatan.
“Kalau sudah seperti ini namanya diskriminasi. Stigma negatif itu harus dihilangkan, karena dengan diterimanya ODHA di tengah masyarakat, sangat membantu bagi psikis penderita. Mereka, para penderita, butuh dorongan dari masyarakat,” Kata Bambang DH.
Menyikapi problem HIV/AIDS yang kian kompleks, Bambang DH mengatakan, KPA harus lebih aktif masuk di forum-forum setingkat RT dan RW. Mengingat penyebaran HIV/AIDS sudah merata di seluruh Surabaya. “Fakta bahwa tidak ada satu kecamatan pun yang bebas HIV/AIDS, harus segera ditanggapi,” kata Bambang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Esty Martiana Rachmi, dalam kesempatan yang sama menjelaskan, stigma negatif yang muncul dimasyarakat, yaitu karena adanya anggapan , bahwa moral si-penderita sebelum sakit, sangat jelek dan penyakit HIV/AIDS dikuatirkan dapat menulariNya. Bahkan lebih ironis lagi, Masyarakat masih ada yang beranggapan, jika bersentuhan kulit dengan penderita HIV/AIDS, bisa tertulari.
“Masyarakat tahunya seperti itu. Penularan HIV/AIDS itu hanya bisa terjadi melalui hubungan badan, atau pertukaran cairan maupun darah. Sementara penyakit TBC justru jauh lebih menular daripada HIV/AIDS,” ujar Esti.
Tudingan penderita HIV/AIDS, yang memiliki moral bejat, Menurut Esty, Masyarakat tak bisa memvonis begitu saja. Mengingat banyak juga anak yang terlahir dengan virus mematikan tersebut. Padahal penyakit itu warisan dari orang tuanya. “Nah anak seperti ini bukanlah bermoral buruk. Ada juga ibu rumah tangga yang tertular justru dari suaminya, padahal dia tak mengetahui riwayat suaminya. Pemahaman utuh seperti ini yang harus disampaikan ke masyarakat,” Tegas Esti.(R4/R7)