Penderita HIV/AIDS Di Surabaya Terbanyak Se-Jatim

Tidak ada komentar 157 views

Surabaya (DOC) – Jumlah penderita HIV Aids di Surabaya terus bertambah tiap tahun. Kepala Bidang pengendalian masalah kesehatan Mira nuvi mengungkapkan, jumlah penderita penyakit mematikan ini mencapai 5.575 orang atau sekitar 88 persen dari estimasi pemerintah pusat 6.147 orang . Jumlah tersebut menurutnya tertinggi diantara kabupaten kota di jawa timur. “Penderintanya semakin banyak, sekitar 5.575 ” ujarnya, selasa (15/1/2013).
Mereka yang terkena penyakit HIV berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari wanita Pekerja seks komersial, pelangan PSK dan pengguna narkoba jarum suntik. Dari sejumlah penderita HIV AID mayoritas masih berusia produktif. “Sekitar 80 persen usia produktif. Ini karena seks bebas dan jarum suntik” jelas Mira.

Untuk menanggulangi penyebaran penyakit HIV-AIDS agar tdiak semakin meluas, Dinas Kesehatan Kota Surabaya melakukan pemeriksaan terhap para pengidap ODHA (orang dengan HIV AIDS). Pemeriksaan dilakukan disejumlah puskesmas dan rumah sakit. “kita punya puskesmas untuk memeriksa HIV-AIDS” kata pejabat dinas kesehatan ini. Sementara untuk Rumah sakit, sebanyak 7 rumah sakit digunakan menjadi jujugan pemeriksaan, diantaranya, RSUD. DR. Soetomo, RSUD Soewandhi, RSUD bahkati Dharma Husada, dan RS bhayangkara. Sedangkan untuk pengobatan, hingga saat ini hanya dilakukan di RSUD Dr. Soetomo.
Mira Nuvia mengatakan, dalam raperda HIV AIDS yang disusun, didalamnya mengatur masalah pencegaha, penanggulangan, penyembuhan serta rehabillitasi. Ia mengharapkan penderita HIV-AIDS tidak mendapatkan perlakukan diskriminatif di masyarakat. “ Kita berharap penderita HIV-AIDS di kantor tidak di PHK” tegasnya

Pembahasan Raperda HIV-AIDs di dewan melibatkan anggota pansus yang seluruh anggotanya anggotanya dari Komisi C, serta melibatkan beberapa Satuan kerja Pemerintah daerah mulai dinas kesehatan, dinas Sosial, bagian hukum serta komisi penangulangan. Anggota Pansus Raperda HIV-AIDs, Agus Sudarsono mengatakan, dalam raperda tersebut terdapat 35 pasal. Namun, hampir sebagian besar dari sejumlah pasal tersebut hanya mengatur masalah penanggulangannnya. “titik beratnya hanya penangulangannnya saja, jadi orang yang sudah kena. HIV AIDS ini penyakit, pencegahannnya apa” tegas anggota Fraksi Partai golkar.
Untuk mencegah penyebaran penyakit HIV- AIDS, dalam pembahasan akan mengundang sejumlah cabang dinas kesehatan dan puskesmas, serta SKPD terkait.” Kita akan undang semua, ini loh bahayanya. Supaya tidak gunakan jarum suntik semaunya” terang Sekretaris Komisi C.
Agus mengharpakan para penderita HIV-AIDS tdiak disingkirkan. Tenaga kesehatan di Puskesmas menurutnya harus memberika layanan terhadap mereka. “kepala Puskesmas harus smiling pada orang ODHA, tdiak boleh disingkirkan” lanjutnya. Tingginya penderita HIV-AIDS di Surabaya menurut AGus sudarsono merupakan warning. Untuk mengatasinya seluruh SKPD harus bekerjasama.”Bukan hanya Dinas kesehatan, Bapemas, dinas social dan Dinas Pendidikan bila perlu harus menganggarkan dana untuk pencegahan dan penanggulangannya” pungkasnya. (K-4)