Pengelolaan Limbah Medis Jatim Masih Kurang

Tidak ada komentar 12 views

Surabaya (DOC) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim menyatakan masih banyak rumah sakit di Jatim yang belum memiliki alat pengelolaan limbah medis. Harga yang mahal membuat hanya rumah sakit besar saja memilikinya.

Kepala DLH Jatim Diah Susilowati menuturkan, dari 234 rumah sakit yang masuk tipe A, B dan C. Baru 20 persennya memiliki alat pengelolaan limbah medis.

“Alatnya bisa mahal. Kalau suhunya yang benar-benar bagus bisa mencapai Rp 2 sampai 3 milliar. Tapi jika suhunya rendah sekitar Rp 1 milliar. Namun suhunya tidak memadai dan jarumnya tidak bisa hancur,” ujar Diah, Senin (13/11/2017.

Maka dari itu, lanjutnya, seringkali alat pengolahan limbah medis dengan harga Rp 1 milliar ini tidak memenuhi standard dari Kementrian kesehatan (kemenkes). Akibatnya izin pun tak turun. Yang terjadi adalah banyak alat yang kemudian mangkrak. Padahal ada persyaratan teknologi mana yang sesuai standard operasional.

“Minta izinnya ke (pemerintah) pusat, asal teknologi benar, kapasitas benar dan suhunya benar diperbolehkan,” jelasnya. Sayangnya yang memiliki alat sesuai dengan kriteria hanyalah rumah sakit besar. Lantas bagaimana dengan rumah sakit tipe C dan puskesmas yang seluruhnya belum punya.

“Ada kemudahan oleh kemenkes yang diatur dalam permen RH nomor 56 tahun 2015 tentang pengelolaan limbah B3 untuk layanan kesehatan,” ungkapnya.

Jadi, menurutnya, rumah sakit besar yang telah punya alat pengolahan limbah bisa bekerjasama dengan puskesmas disekitarnya. Puskesmas bisa membuangnya ke rumah sakit yang telah memiliki izin. “Disamping untuk internal bisa terima asal puskesmas terdekat,” ungkapnya.

Tetapi, diakuinya, meski telah memakai skema seperti itu. Tetap saja keberadaan alat dengan jumlah limbah medis di Jatim masih belum memadai. Jumlahnya, Diah tidak hafal berapa pastinya limbah yang tertampunya oleh alat di rumah sakit. Oleh karenanya, diperbolehkan melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Atau dibawa ke luar Jatim, seperti di Bogor.

“Makanya kerjasama dengan pihak ke tiga atau di bawa ke Bogor. Kita masih butuh lebih banyak lagi alat pengelolaan limbah,” tandasnya. (bah)