Penghargaan KLA 2013 Menanti Surabaya

Tidak ada komentar 126 views

Surabaya,(DOC) – kembali kota Surabaya berpeluang ‘naik kelas’ dalam penghargaan Kota Layak Anak (KLA) 2013. Pasalnya, tahun ini Kota Pahlawan masuk sebagai salah satu nominator penerima KLA tingkat Nindya-Utama. Artinya, Surabaya punya kans meraih predikat KLA kategori Utama yang notabene merupakan tingkatan tertinggi dalam penyelenggaraan KLA.
Progres Surabaya dalam KLA terus meningkat dari tahun ke tahun. Diawali dengan gelar KLA kategori Madya pada 2011 dan naik ke kategori Nindya pada 2012. Tren positif itulah yang melecut optimisme Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam KLA 2013 ini.
Namun, sebelum menggapai gelar KLA, Surabaya harus melewati serangkaian proses terlebih dahulu. Seperti verifikasi langsung dari tim penilai KLA yang berkunjung ke balai kota, Rabu (5/6). Rombongan yang berjumlah tiga orang diterima Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beserta sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pemkot.
Pada kesempatan itu, wali kota menyampaikan bahwa yang menjadi perhatian utamanya saat ini adalah bagaimana mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak. Nah, untuk merealisasikan itu, lanjut dia, kuncinya tidak boleh ada anak yang tidak sekolah. Semua anak berhak atas pendidikan yang layak.
Wali Kota yang akrab disapa Risma ini bahkan menginstruksikan para camat dan lurah untuk memonitor jika ada anak yang putus sekolah di masing-masing wilayah. Kalau menemukan ada anak yang tidak sekolah, pemkot akan melakukan intervensi. Risma berpendapat, hal itu dilakukan lantaran pihaknya memandang pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan tidak boleh diabaikan.
Tidak berhenti di situ, perhatian pemkot di bidang pendidikan juga tercermin dalam program penyediaan kuota sekolah lima persen bagi anak miskin. Peserta program bisa masuk sekolah yang dekat dengan rumahnya tanpa persyaratan tes apapun. Mereka juga mendapat fasilitas perlengkapan sekolah gratis berupa seragam, buku, sepatu, dsb.
Disamping soal pendidikan, masalah kenakalan remaja pun mendapat perhatian dari pemkot. Wali kota secara rutin memberikan sosialisasi ke sekolah-sekolah guna mencegah perilaku nakal remaja serta potensi tindak trafficking (perdagangan manusia). Risma juga kerap turun langsung saat razia di tempat-tempat hiburan malam. “Kami terus memantau dan mengawal anak-anak agar mereka tidak terjerumus ke jalan yang salah. Untuk itu, pengawasan terus dilakukan. Mereka tidak boleh berada di warnet, mal-mal, atau tempat-tempat lain saat jam sekolah,” terangnya.
Sedangkan dari sisi sosial, tahun ini pemkot memulai program pemberian makanan tambahan bagi anak yatim-piatu dan anak cacat. Itu merupakan salah satu bentuk intervensi pemkot dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
“Surabaya juga punya dua pondok sosial khusus anak, disamping shelter (rumah singgah) rehabilitasi untuk memulihkan kondisi anak pasca mengalami trauma atas kejadian tertentu,” imbuh Risma.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas KB) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, mengatakan, kunjungan tim verifikasi KLA untuk melakukan cek lapangan. Hasil yang didapat akan dibandingkan dengan data yang telah dikirim pemkot ke pemerintah pusat.
Dikatakan Antiek, penilaian mencakup 31 indikator termasuk didalamnya 4 kluster. Ke empat kluster yang dimaksud meliputi pemenuhan hak dasar, penanganan masalah anak, kondisi lingkungan, dan aspek sosial. “Selama dua hari, tim verifikasi bakal mengunjungi sejumlah lokasi yang masing-masing mewakili sektor pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan perlindungan sosial,” ujar Antiek ketika ditemui usai kunjungan di balai kota.
Sementara itu, Ketua tim verifikasi KLA, Supalarto Sudibyo, menyebut inti KLA bukan terletak pada pemberian penghargaan, tapi yang lebih penting nantinya akan dicermati bagaimana kinerja dan koordinasi antar SKPD dalam rangka merealisasikan program-program yang layak anak.(r7)