Penguatan Implementasi Kurikulum 2013 Untuk Prajurit

Makassar, (DOC) – Panglima TNI yang diwakili Wakil Asisten Teritorial (Waaster) Panglima TNI Brigjen TNI (Mar) Sturman Panjaitan didampingi oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan, Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim. M.S., Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Dwia Ariestina, M.A., Direktur Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Dasar, membuka acara “Bimbingan Teknis Penguatan Implementasi Kurikulum 2013 Bagi TNI Yang Diperbantukan Sebagai Pendidik di Daerah Khusus”, di Hotel Aerotel Smile, Makassar, Senin (6/10/2014).
Dalam sambutan Panglima TNI, yang dibacakan oleh Waaster Panglima TNI, mengatakan bahwa tantangan dan persoalan terkait dengan pendidikan yang dihadapi ke depan, sungguh jauh lebih berat dan rumit. TNI sebagai komponen bangsa berkewajiban untuk mempersiapkan generasi yang mampu mengelola dan menjawab berbagai persoalan dan tantangan tersebut sesuai dengan jamannya. Oleh karena itu, anak-anak harus mendapatkan layanan pendidikan yang semakin terjangkau dan semakin berkualitas. Mereka harus mendapatkan layanan pendidikan sedini mungkin (star earlier), setinggi mungkin (stay longer) dan mampu menjangkau seluas mungkin, termasuk bagi yang tidak terjangkau (reach wider).
Menurut Panglima TNI, ada beberapa hal yang mendasari TNI turut serta berperan melayani masyarakat dalam bidang pendidikan. Pertama, prajurit TNI berada dimana-mana seluruh tanah air tidak terkecuali di daerah khusus, yang tugas pokoknya adalah menjaga keamanan dan keutuhan NKRI, akan tetapi biasa juga diberi tugas tambahan untuk turut juga mencerdaskan anak bangsa (menjadi guru di sekolah-sekolah di daerah khusus manakala kekurangan tenaga pendidik). Sehingga diharapkan bisa meningkatkan akses layanan pendidikan yang dari tahun ke tahun menjadi lebih baik.
Kedua, prajurit TNI mempunyai disiplin, kesadaran belanegara yang cukup memadai, sehingga sangat cocok untuk membantu mengajar pada anak-anak Indonesia terutama di daerah khusus (perbatasan) yang tidak menutup kemungkinan kesadaran belanegaranya sangat rendah.
Ketiga, prajurit TNI saat ini sudah banyak yang melakukan (menjadi guru di daerah-daerah khusus terutama di perbatasan yang secara umum tenaga pendidiknya kurang) tetapi prajurit-prajurit tersebut belum dibekali metode mengajar maupun materi yang mau diajarkan, jadi mereka mengajar sesuai dengan apa yang dia kuasai dan metode mengajarnya berpedoman pada Cara Memberikan Instruksi (CMI) yang didapat saat pendidikan militer.
Keempat, fakta di lapangan di daerah khusus (perbatasan) sangat suka dan bangga diajar oleh prajurit TNI, yang selama ini melihat TNI agak takut-takut setelah diajar oleh prajurit TNI menjadi sangat akrab dan tentunya akan dapat diwujudkan bahwa bersama rakyat TNI kuat dan bersama TNI rakyat sejahtera.
“Kurikulum 2013 yang akan diterapkan secara bertahap dan menyeluruh pada tahun ajaran 2014/2015, bagi prajurit TNI materi pendidikan ini adalah materi baru karena saat prajurit TNI mengenyam pendidikan umum sebelum masuk menjadi anggota TNI adalah masih menggunakan kurikulum yang lama, dengan demikian perlu adanya penyesuaian terhadap materi yang akan diberikan”, ujar Panglima TNI.
Kegiatan yang akan berlangsung tanggal 6-11 Oktober 2014 itu diikuti oleh 219 orang, terdiri dari: TNI AD sebanyak 130 orang dari personel Koramil dan Kodim Wilayah Kodam VII/Wirabhuana dan TNI AL sebanyak 89 orang dari peronel Pangkalan TNI AL (Lanal) wilayah timur. (puspen/r4)