Perang Lawan Teroris, 3 Orang Ditangkap di Mojokerto dan Jombang

Mojokerto (DOC) – Perang melawan kelompok teroris terus dilakukan tim Densus 88 dengan menyisir seluruh wilayah di Jawa Timur. Kali ini, Densus 88 kembali berhasil menangkap terduga teroris di Mojokerto. Dua terduga teroris yang diamankan sekitar pukul 15.30 WIB, Kamis (17/5/2018) itu bertempat tinggal di Dusun Betro Barat, Desa Betro, Kemlagi, Mojokerto.

Selain 2 terduga teroris di Mojokerto, Densus 88 juga menangkap satu terduga teroris di Jombang. Dari penangkapan terduga teroris bernama Nur Kholis (35) ini polisi menyita sebilah pedang di rumahnya, Dusun Plemahan, Desa Banyuarang, Ngoro.

Petugas juga menyita sejumlah barang dari rumah orang tua terduga teroris tersebut. Barang yang disita dari rumah orang tua Nur Kholis di Dusun Plemahan, Desa Banyuarang, Ngoro, Jombang, antara lain 2 alat solder, 2 buku ajaran Islam radikal, 4 ponsel, 4 baterai ponsel, 1 tablet, 1 Alquran mini, 1 tas hitam, serta sebilah pedang.

Kapolresta Mojokerto, AKBP Sigit Dany Setiyono membenarkan penangkapan keduanya. Dua terduga teroris berinisial S (52) dan L (27) ini memiliki hubungan bapak dan anak.

“S ini bapaknya, sedangkan L ini anaknya,” kata Sigit.

Polisi memastikan tidak ada bom maupun bahan peledak yang ditemukan di rumah terduga teroris Mojokerto. Petugas hanya menyita 28 buku terkait ajaran jihad.

“Jumlah bukunya 28 buah, masih kami koordinasikan dengan pihak Densus 88, sementara kami amankan di Polresta Mojokerto,” tambah Kasat Reskrim Polresta Mojokerto, AKP Suharyono.

Polisi juga membawa istri Sutrisno dan Lutfi ke Mapolsek Kemlagi untuk dimintai keterangan.

Ketua RT 2 RW 3 Dusun Betro Barat, Suwoto (48) membeberkan identitas kedua terduga teroris yang ditangkap. Mereka Sutrisno (S) memiliki 4 anak dan Lutfi (L) memiliki anak usia 3 tahun.

“Sutrisno ini mempunyai 4 anak, anak yang pertama adalah Lutfi sudah menikah,” ungkapnya.

Tetangga dekat terduga teroris, Prapti Ningsih (44) mengaku keduanya bekerja di perusahaan sablon dan berjualan mie ayam. Keduanya tinggal di kawasan tersebut 9 tahun lamanya.

“Pak Sutrisno kerjanya jualan mi ayam di Kota Mojokerto, juga kerja di perusahaan sablon. Lutfi juga kerja di tempat yang sama, garapan dibawa pulang, dikerjakan di rumahnya,” jelas Prapti.

Ali Imron, tokoh masyarakat Desa Betro, Kemlagi mengaku pihaknya dan warga pernah membubarkan paksa pengajian yang digelar Sutrisno dan anak pertamanya, Lutfi Teguh Oktavianto. Saat itu Sutrisno mengaku sebagai Ketua Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Mojokerto.

“Tahun 2011 masyarakat di sini bergerak karena tak ingin ada radikalisme. Warga merobohkan tempat yang akan digunakan untuk basecamp bagi kelompok Sutrisno. Saat itu Sutrisno mengaku sebagai Ketua JAT Mojokerto,” kata Ali kepada detikcom di rumahnya.

Sebelum bergabung dengan JAT, lanjut Ali, Sutrisno pernah mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Betro akhir 1990. Saat itu Sutrisno juga berbisnis galian pasir. Namun pencalonan Sutrisno gagal. Usaha tambang pasir juga terhenti, karena tak ada lagi tempat untuk menambang pasir.

“Setelah gagal itu, dia (Sutrisno) mulai didekati kelompok-kelompok garis keras,” ujarnya.

Sebelum aksi warga pada 2011, ulah Sutrisno dan kelompoknya kerap meresahkan warga. Rumah Sutrisno kerap dijadikan tempat untuk menggelar pengajian.

“Halaqoh di rumah Sutrisno itu rutin, sebulan dua kali. Anggotanya belasan orang, laki-laki dan perempuan, yang perempuan selalu pakai cadar,” ungkapnya.

Tak hanya itu, kata Ali, Sutrisno dan kelompoknya juga kerap menyampaikan kalimat-kalimat berbau radikalisme kepada warga sekitar rumahnya.

“Kelompoknya kerap menuding orang lain kafir, menyebut NKRI negara toghut,” terangnya.

Rumah di Dusun Betro Barat tersebut dihuni Sutrisno bersama istrinya, Umi Rodiyah, anak pertama Sutrisno Lutfi Teguh Oktavianto (27), menantu Sutrisno Ifa, cucu Sutrisno yang berusia 3 tahun, serta anak laki-laki Sutrisno yang berusia 9 tahun. Sementara itu, dua anak Sutrisno lainnya menjalani pendidikan di pondok pesantren.

Sutrisno lahir di Desa Ketapan Kuning, Ngusikan, Jombang. Sementara istrinya lahir di Dusun Betro Timur, Desa Betro, Kemlagi.(dtc/ziz)

Tag: