Perang Mulut Dengan Pengusaha Soal Brandgang Biliton

Surabaya, (DOC) – Niat baik tak selamanya menuai hasil maksimal. Hal ini seperti yang dialami oleh sejumlah anggota Komisi C DPRD Surabaya yang melakukan sidak penertiban brandgang untuk menegakkan peraturan daerah(Perda), namun mendapat perlawanan dari pemilik bangunan. Dalam sidak yang digelar Jumat(25/01/2013), siang, dilokasi eks SPBU Biliton Surabaya, beberapa anggota dewan sempat adu argumentasi dengan pemilik bangunan.
Eks SPBU di Jalan Biliton ini, rencananya akan dialih fungsikan sebagai hotel, yang dalam pengerjaan-nya diduga memakan lahan brandgang. Temuan komisi C, lahan brandgang yang seharusnya dikosongkan untuk akses jalan kebakaran, ditutup oleh bangunan non permanen berupa besi kanopi dan beratap seng. Pemilik bangunan yang saat itu menemui para legeslatif, dianggap melanggar Perda soal brandgang.
Menerima tuduhan melanggar, spontan pemilik lahan tersebut membantahnya dan tidak mau dipersalahkan. Mengingat fungsi brandgang nanti, tidak akan di rubah untuk kepentingan usahanya dan akan dibiarkan kosong. “Kita lihat saja denah pembangunanya. Kita hanya memegari dengan seng untuk menutup lokasi proyek. Kita juga tahu kalau brandgang tidak boleh dibangun,” ujar Santoso pemilik lahan eks SPBU Biliton.
Dalam adu argument tersebut, Santoso sempat menantang pihak pemkot dan legeslatif, untuk berlaku adil dan tidak tebang pilih, dengan membongkar bangunan belasan rumah di sekitar lahannya, yang dengan jelas memakai lahan brandgang sebagai tempat tinggal. Bahkan menurutnya, jika demi peneggakan perda, Pemkot seharusnya membongkar seluruh bangunan permanen yang menutup brangang dari Biliton sampai tembus ke jalan Raya Gubeng. “Berulang kali anggota dewan dan Satpol PP sidak ke kesini. Tapi ya tetap saja gitu-gitu saja tidak ada pembongkaran. Kenapa saya terus yang diusik meskipun saya selama ini tidak pernah membangun di lahan itu,” ungkap pengusaha berkacamata ini.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Sachiroel Alim mengatakan perlawanan pemilik lahan ini, merupakan bentuk pelecehan terhadap institusi pemkot dan DPRD Surabaya. Untuk itu, dirinya akan memanggil Santoso dan dinas terkait pada Selasa(29/01/2013), minggu depan. “Yang jelas kita meminta penutup seng tersebut digeser agar tidak terlihat menutup brandgang. Dulu tembok itu pernah dibongkar, tapi kenapa ada lagi. Ini jelas melecehkan,” ungkap politisi partai demokrat ini.

Memang seperti pantauan dilokasi, selain lahan eks SPBU Biliton, masih terdapat 13 rumah hunian milik warga, yang memakai lahan brandgang dengan mendirikan bangunan secara permanen. Bahkan bangunan tersebut telah berdiri selama bertahun-tahun, tanpa bisa dialihkan fungsinya kembali seperti semula.(R10/R7)