Perda Pariwisata Tak Beri Toleransi Tempat Dugem

Tidak ada komentar 870 views

Surabaya (DOC) – Revisi Perda Pariwisata nomer 6 tahun 2008 yang mengatur jam operasional rekreasi hiburan umum(RHU), yang baru saja di bahas oleh Panitia Khusus DPRD Surabaya, tidak memberi toleransi sedikitpun terhadap tempat-tempat hiburan saat bulan Ramadan.

Untuk revisi kali ini, perda tersebut melarang seluruh RHU termasuk Pijet SPA, Karaoke Keluarga dan rumah billyard beroperasi selama bulan Ramadan.

Anggota Pansus Revisi Perda Pariwisata, KH M Naim Ridwan menjelaskan, hasil rapat pansus Perda Pariwisata yang dihadiri oleh beberapa elemen masyarakat seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ketua PC NU Surabaya, Ketua PC Muhammadiyah Surabaya  dan ormas lainnya, telah sepakat menutup seluruh RHU selama sebulan penuh, tanpa ada perbedaan.

”Tadi Bagian Hukum pemkot juga dihadirkan, malah mereka mendapat titipan masukan dari Walikota Surabaya untuk memasukkan jenis Usaha SPA agar juga ditutup sekalian. Sehingga seluruh peserta pansus langsung menyetujui dan ketua Pansus mengesahkannya,” jelas pria yang akrab disapa Gus Na’im tersebut.

Selain bulan Ramadan, tempat-tempat dugem tersebut juga dilarang beroperasi pada Hari Raya Idul Adha. Mereka diminta menutup tempat usahanya satu hari penuh untuk menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah.

“Jadi mulai malam takbir Idul Adha, mereka harus tutup, dan ini sudah kesepakatan bersama, meski perwakilan pengusaha dari Himpunan pengusaha hiburan umum (Hiperhu) dan Assosiasi rumah makan dan hiburan malam (Arumba) tidak hadir dalam rapat pansus tadi,” kata Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Surabaya ini.

Gus Na’im menambahkan, aturan yang dituangkan dalam revisi Perda Pariwisata tersebut mengacu pada Undang-undang Pariwisata nomer 10 tahun 2009, Bab III, Pasal 5 dan 26 yang pada prinsipnya seluruh warga harus menjunjung tinggi nilai dan norma agama. Selain itu, para pengusaha pariwisata juga wajib menjaga norma agama dan adat istiadat serta budaya masyarakat sekitar.

”Surabaya ini, kota religi yang terdapat beberapa tempat sakral seperti makam Sunan Ampel, Mbah Bungkul dan Mbah Karimah. Sehingga sudah sewajarnya para pengusaha ini menghormatinya dengan mematuhi aturan Perda Pariwisata.” Imbuh Gus Naim.
Menurutnya, dengan aturan yang jelas maka diharapkan Bakesbanglinmas bisa maksimal menertibkan RHU yang melanggar aturan.(r7/r3)