Perdagangan Antar Provinsi di Jatim Surplus Rp 79 T

Surabaya (DOC) – Semester pertama 2017 perdagangan antara provinsi di Indonesia mencapai Rp 348 triliun, sedangkan barang-barang yang masuk ke Jawa Timur dari berbagai daerah di Indonesia sebesar Rp 279 triliun. Jadi selama enam bulan perdagangan antar provinsi di Jawa Timur mengalami surplus Rp 79 triliun.

Hal Tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo saat Menghadiri Pembukaan Workshop E-Smart Industri Kecil dan Menengah (IKM) di H Swiss Juanda Sidoarjo, Senin (25/9).

Dikatakannya, Jawa Timur merupakan salah satu pusat perdagangan dan mampu untuk melayani 120 juta masyarakat indonesia Timur. Sehingga diperkirakan sampai dengan akhir 2017 perdagangan Jawa Timur dengan daerah lain di Indonesia bisa surplus Rp 160 triliun.

Tahun 2016 perdagangan antarprovinsi antar pulau mencapai Rp 535 triliun sedangkan barang yang masuk ke Jawa Timur mencapai Rp 434,4 triliun jadi surplus mencapai Rp 100,6 triliun. Oleh sebab itu kepada para peserta pelatihan, kalau ingin membuat kantor pusat perdagangan di Jawa Timur tempatnya.

Sementara pada 2016 Produk Domistik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur sebesar Rp 1855 triliun 29,17 persen adalah diperoleh dari sektor industri, treding sektor perdagangan 18 persen dan sektor pertanian atau agro sekitar 14,46 persen.

Disektor pertanian masih mempunyai pekerjaan untuk mendorong pertumbuhan tersebut dari produksi prioritas (On Farm) menjadi produduk olahan (Off Farm) yang selanjutnya diperdagangan/dipasarkan (Trading). Sekarang pekerjaan rumah tersebut telah diambir oleh kementerian perindustrian untuk memperluas pasar melalui E-Samrt.

Oleh sebab itu jika proses perdagangan Jawa Timur ditambah menggunakan E-Smart IKM akan bertambah cepat naik. Karena perdagangan dengan sistem E-Samrt akan membuka pasar lebih luas ditambah keuntungannya semakin bertambah besar. Oleh sebab itu kepada kalangan muda manfaatkan betul sistem perdagngan dengan dengan menggunakan E-Smart.

Meskipun posisi IKM dalam posisi kurang efisien dibanding dengan multi nasional coperation karena faktor biaya permodalan yang masih kurang murah dari pihak perbankan. Pada hal perbankan pernah berjandi mau membantu IKM dengan pinjaman muran tetapi janji tersebut belum diterapkan oleh perbankan. Karena perbankan masih memberi pinjaman kepada IKM dengan bunga masih dibilang tinggi 18 persen, sehingga memberatkan IKM. Oleh sebab itu kepada Menteri Perindustrian diharapkan bisa mencarikan solusi bagaimana mencarikan pinjaman permodalan dengan bunga murah.

Jawa Timur industrinya maju tetapi belum ditunjang dengan pembiayaan pinjaman permodalan dari perbankan dengan bunga yang murah. Tetapi dengan adanya perdagangan melalui E-Smart ini akan bisa membatu lebih baik lagi bisa mencarikan pasar yang lebih luas.

Acara pembukaan Workshop E-Smart IKM yang diikuti 125 orang dari berbagai daerah di Indonesia tersebut tersebut dihadiri oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah dan para pejabat dari OPD Jawa Timur dan Sidoarjo. (D02)