Perekonomian Jatim Kian Membaik, Deflasi Bulan Agustus 0,25 Persen

Surabaya (DOC) – Agustus 2017 Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,25 persen atau lebih rendah dari deflasi nasional sebesar 0,07 persen. Deflasi menunjukkan adanya penurunan harga di sebagian besar komoditas yang berdampak daya beli meningkat dan masyarakat menjadi sejahtera.

“Deflasi ini menunjukan tanda-tanda perekonomian Indonesia dan khususnya Jawa Timur semakin tambah membaik,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Teguh Pramono.

Dikatakan teguh, berdasarkan penghitungan angka inflasi di 8 kota Indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Timur selama Agustus 2017, seluruhnya mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Malang, yaitu mencapai 0,57 persen, diikuti Sumenep 0,25 persen, Surabaya dan Probolinggo 0,19 persen, Kediri sebesar 0,17 persen, Madiun 0,16 persen, Banyuwangi 0,11 persen, dan Jember sebesar 0,09 persen.

Komoditas bawang putih dan bawang merah merupakan komoditas yang memiliki andil yang cukup signifikan terhadap terjadinya deflasi di semua kota IHK Jawa Timur. Kemudian selain Jember, komoditas cabe rawit juga menahan laju inflasi di 7 kota lainnya di Jawa Timur. Sedangkan angkutan udara juga menjadi mengalami penurunan di kota-kota yang memiliki bandara udara yaitu Surabaya, Malang dan Banyuwangi.

Sedangkan kenaikan beberapa komponen biaya pendidikan di sekolah dasar dan menengah awal tahun ajaran baru turut mendorong terjadinya inflasi di beberapa kota di Jawa Timur. Sedangkan hingga bulan agustus ini harga garam juga masih menjadi faktor pendorong inflasi di hampir semua kota IHK di Jawa Timur .

Sampai dengan bulan Agustus 2017 secara kumulatif Kota Madiun merupakan kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi yaitu mencapai 3,93 persen, kemudian di ikuti Kota Surabaya yang mencapai 2,97 persen, dan Kota Malang mencapai 2,90 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender yang terendah ialah di Banyuwangi dan Probolinggo yang masing-masing mencapai 2,14 persen dan 2,26 persen.

Selama Agustus 2017, tiga ibukota provinsi di Pulau Jawa mengalami inflasi, sedangkan tiga lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di DKI Jakarta sebesar 0,13 persen, diikuti Serang sebesar 0,12 persen, dan Bandung sebesar 0,06 persen. Sementara itu, ibukota yang mengalami deflasi antara lain Semarang sebesar 0,48 persen, Yogyakarta sebesar 0,4 persen, dan Surabaya sebesar 0,19 persen.

Inflasi tahun Kalender Agustus 2017 di ibukota provinsi pulau Jawa menunjukkan Kota Serang mengalami inflasi tertinggi yaitu mencapai 4,22 persen, kemudian disusul Kota Surabaya yang mencapai 2,97 persen, DKI Jakarta 2,86 persen, Yogyakarta 2,76 persen, Semarang 2,44 persen, dan yang terendah Bandung yaitu sebesar 2,23 persen.(DOC02)