Perhitungan Suara Pemilu Rawan Manipulasi

Tidak ada komentar 124 views

Jakarta, (DOC) – Pelaksanaan Pemilu selalu dibayangi dengan manipulasi. Tahapan manipulasi yang paling rawan terjadi adalah saat penghiungan suara seusai pencoblosan berlansung.
Pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menilai perlu kewaspadaan dari semua pihak akan kemungkinan terjadinya kecurangan di Pemilihan Umum 2014, jika dilihat dari sejarah, pelaksanaan pemilu dan pilkada di Indonesia tak sepi dari proses manipulasi.
“Manipulasi lazim terjadi terutama saat proses perhitungan suara mulai dari jumlah Daftar Pemilih Tetap yang tidak ada kejelasan yang tegas, surat suara dicetak dengan adanya kelebihan apakah sudah dimusnahkan atau belum, kotak suara terbuat dari kardus yang mudah sekali dirusak, dan indikasi lainnya modus semakin berkembang sesuai situasi yang dihadapi dan menunjukkan bahwa proses pemilu belum berjalan lancar. Pelanggaran atau manipulasi bisa mengganggu tahapan pemilu sehingga pemilu dianggap tidak sah,” papar Ray.
Mantan Ketua DPRD Jawa Barat tahun 1999 – 2004, Eka Santosa mengatakan, manipulasi pemilu 2014 sumber utamanya adalah Daftar Pemilih Tetap (DPT). “Ketidakjelasan jumlah DPT menjadi sumber utama manipulasi, karena ini bisa saja dimanfaatkan oleh sindikat untuk menghilangkan surat suara,” ujar caleg Partai NasDem dari Dapil Jawa Barat 10.
Mantan pimpinan Komisi II DPR RI tahun 2004-2009 ini menambahkan, manipulasi yang juga bisa terjadi adalah dengan menyalahgunakan undangan bagi pemilih. “Kepada tiap calon pemilih seharusnya mendapatkan undangam untuk datang ke Tempat Pemilihan Suara (TPS), namun dilakukan manipulasi dengan tidak memberikan undangan tersebut kepada yang bersangkutan, sehingga pemilih tidak datang ke TPS karena tidak mendapatkan undangan. Ini akan meningkatkan angka golput atau kartu suaranya akan dimainkan oleh aparat-aparat yang curang,” jelas Eka.
Sementara, caleg dari Partai Golkar Muhammad Fahreza Sinambela menambahkan, kecurangan atau manipulasi pemilu pasti selalu ada namun bagaimana kita meminimalisir karena kecurangan ini tidak bisa dihentikan. Manipulasi bisa terjadi pada penyimpangan perhitungan suara, penyalahgunaan surat suara, dan adanya KTP fiktif pemilih.
“Manipulasi sifatnya situasional bisa dilakukan mulai dari PPS hingga KPU tingkat provinsi. Contoh kecurangan pemilu adalah penghitungan surat suara dari Panitia Pemilihan Suara (PPS) dengan memanipulasi data suara golput. Selain itu, 3 hari setelah pemilu, adalah hari yang paling rawan adanya perubahan data suara karena terjadinya jual beli surat suara oleh aparat penyelenggara pemilu yang dijadikan proyek untuk memenangkan caleg juga merupakan praktek korupsi yang paling kejam,” ujar mantan wartawan media elektronik ini. (r4)