Peringati Hari Pers Nasional, Alfamart Gelar Pelatihan Wartawan

Surabaya,(DOC)Hari pers nasional yang jatuh pada 3 Mei tidak hanya diperingati oleh kalangan media,
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk yang bergerak dalam toko modern seperti Alfamart juga tak luput menggelar seremoni peringatan hari pers. Tentu saja sasarannya adalah para wartawan sebagai pelaku media.

Bertempat di rumah albi lantai 2 Alfamart Jl. A. Yani 135 Jemur Wonosari Surabaya, sekitar 25 orang jurnalis baik media cetak, online, radio maupun televisi mengikuti peringatan hari pers yang dikemas dengan pelatihan manajemen ritel, Sabtu (3/5). Pelatihan ini penting untuk menambah wawasan dalam perkembangan toko modern di Surabaya.

Operation Community Relation Alfamart untuk wilayah Indonesia Timur M. Farug Asrori menjelaskan kegiatan memperingati hari pers oleh Alfamart dilakukan serentak di 23 cabang Alfamart di Indonesia. “Hanya waktunya saja yang tidak sama antara kota satu dengan lainnya,” katanya saat membuka pelatihan,Sabtu(3/5/2014).

Mengambil tema “warung dan Pasar Tradisional Adalah Mitra Alfamart” acara ini dihadiri oleh para petinggi Alfamart dan perwakilan Bank Mandiri sebagai mitra Alfamart. Para peserta memperoleh materi mengenai potensi industri ritel. Para peserta diajak untuk mengenal perbedaan pengelolaan antara bisnis ritel tradisional vs ritel modern.

”Industri ritel baik format modern maupun tradisional akan tetap dibutuhkan, selama masyarakat masih memerlukan produk kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhannya,” ungkapnya.

Sales Corporate Alfamart Budi Sudarmono mengatakan Alfamart kini sudah lebih berkembang dibandingkan saat baru buka empat tahun lalu. Sebab bisnis warung ritel ini cukup membantu masyarakat sekitar yang barang dagangannya disuplai Alfamart. Menurutnya, Alfamart berkomitmen untuk membuka lapangan kerja sekaligus bisnis baru bagi masyarakat rumahan.

Menurut dia, syaratnya tidak terlalu rumit, warga harus memiliki bangunan permanen dengan luasan tertentu untuk kemudian diredesain oleh Alfamart. Misalnya dicat ulang atau dibikinkan rak etalase barang.
Tak hanya itu secara berkala pemilik warung ritel ini juga mendapat pelatihan gratis sehingga mereka memiliki pemahaman yang sama bagaimana mengelola toko secara modern dengan pelayanan yang baik.

Soal barang yang akan dijual, lanjut Budi, pemilik toko atau warung tidak harus membeli dari Alfamart saja tetapi juga boleh beli di tempat lain. “Hanya saja kalau beli di kami harganya pasti lebih rendah 10-15 persen dan mereka boleh menjualnya sama dengan harga yang dipatok di minimarket Alfamart. Sehingga pemilik warung atau toko sudah bisa mengambil margin,” kata Budi Sudarsono.

Bisnis ritel, kata Budi, sangat cocok untuk para ibu rumah tangga maupun para pensiunan. Sambil mengisi waktu luang bisa menjalankan toko ritelnya sendiri. Namun untuk tetap menarik pembeli, mengelola toko ritel ini tak boleh berlaku sembarangan. Sebab faktor kepuasan konsumen tetap menjadi andalan.

“Hal ini yang mesti kami tekankan dalam training du bulan sekali kepada para pemilik warung atau toko ritel,” katanya.

Respon masyarakat untuk bermitra dengan Alfamart ternyata cukup bagus. Menurut Budi, satu minimarket reguler bisa melayani sampai 50 toko atau warung ritel. Untuk bisa bermitra ini jarak toko ritel dengan Alfamart reguler dihitung dalam radius lima kilometer. Kalau sudah di luar radius itu toko ritel itu akan dimitrakan dengan Alfamart reguler terdekat.

“Intinya kami mengajak masyarakat untuk menjual langsung kepada enduser sebagai mata rantai terakhir. Masyarakat tertarik karena tidak perlu bermodal besar namun memiliki omzet penjualan yang bagus sebab biaya operasionalnya kecil,” tambah Budi.

Untuk mengambil barang di Alfamart juga hemat waktu dan tenaga. Sebab store sales point akan berkeliling ke toko-toko binaan untuk mengedrop barang yang dibutuhkan minimal 3 minggu sekali. Saat ini di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, lamongan dan Bojonegoro terdapat 365 warung atau toko retail. Jumlah ini berkembang pesat dibanding tahun 2009 silam yang hanya sembilan toko.

Perusahaan, lanjutnya, telah menjalankan program keanggotaan pedagang ritel tradisional yang dikenal sebagai Outlet Binaan Alfamart (OBA) dan Bedah Warung. Dengan bergabung menjadi ‎member OBA pedagang dapat dalam memperoleh produk sekaligus layanan antar. Bagi member tertentu bahkan mendapatkan kesempatan Bedah Warung, yakni bantuan renovasi warung miliknya agar tampak lebih menarik.

“Program OBA dijalankan untuk membantu para pedagang tradisional agar tetap dapat berkembang di tengah persaingan bisnis ritel modern,” tegasnya.

Devisi marchendise Agus menambahkan kerjasama dengan usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga dalam bentuk pemasaran. Produk UMKM bisa dipasarkan di Alfamart. Tentu saja dengan berbagai kriteria yang ditentutukan. Salah satu syaratnya adalah produk dengan merek sendiri (sudah memilik merek atau nama), dan private atau sudah berlabel

“Ya produk sudah dikemas denan baik, menarik, bersih dan higienis, dan bukan item repacking (dikemas ulang), juga belum ada varian serupa dijual Alfamart,” jelasnya.

Selain itu, kriterianya adalah produk bukan item musiman, sudah memiliki izin siup, tdp, pirt dan sertifikat halal, bisa retur atau tukar guling, rekomendasi daripemerintah setempat. “Produk yang masuk dilihat dulu perkembangan penjualannya selama tiga bulan, kalau selama itu tidak bagus, maka diganti dengan produk lainnya,” tandasnya. (r7)