Pertamax Fluktuatif, Pengusaha SPBU Pusing

 Ekonomi, Featured

Yogyakarta (DOC)– Para pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) melayangkan protes atas penentuan harga jual Pertamax yang Fluktuatif, mengikuti harga minyak dunia. Mereka harus menanggung rugi akibat kesulitan menjual BBM non Subsidi tersebut ke masyarakat.

Ketua Paguyuban Penanggugjawab Pengelola SPBU (PPJP) Kulonprogo Dalduri menjelaskan, kerugian tersebut sering dirasakan oleh para pengelola SPBU di pinggiran, mengingat penjualan mereka sangat terbatas dan mengandalkan dari masyarakat dan swasta.

Setiap harinya hampir tidak pernah ada kendaraan dinas yang masuk untuk mengisi bahan bakar. Padahal perliter-nya, Pengelola SPBU hanya mendapatkan margin keuntungan sebesar Rp. 325,- dari penjualan Pertamax.

Kini kerugian yang dialami oleh SPBU bertambah besar, saat harga BBM non Subsidi tersebut, terjadi penurunan.

Harga yang semula Rp. 10.100,- per-liter,  kini menjadi  Rp. 9.800,- per liternya. Sehingga Praktis margin keuntungan yang didapat hanya tinggal Rp.25,- per liter. Hal ini jelas tidak sebanding dengan tingkat losses.
“Kalau seperti ini kan rugi, margin keuntungan dengan losses tidak sebanding,” jelasnya.

Menurut Kulonprogo, Para Pengelola SPBU kini hanya berharap adanya kebijakan yang pasti dari pemerintah terhadap harga Jual Pertamax.  Pemerintah Idealnya mengkaji harga Pertamax dalam kurun waktu tertentu yang lebih panjang seperti enam bulan sekali.
“Yang kita butuhkan kepastian harga, tidak seperti ini,” tegasnya.(R-7).