Perusahaan China Bidik Sejumlah Proyek Infrastruktur di Indonesia

Jakarta (DOC) – Perusahaan China Communications Construction Company Ltd. (CCCC) membidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia.

Vice President CCCC International Pen Dapeng menjelaskan pihaknya sedang menjajaki lebih dari 10 proyek di Tanah Air diantaranya pembangunan jalan tol, pelabuhan, kawasan industri, dan real estate.

“Saat ini proyek yang sedang berjalan di Indonesia nilainya sekitar 1,2 miliar dolar AS terutama di bidang infrastruktur dan real estate,” ujar Dapeng saat menerima kunjungan wartawan dari negara-negara ASEAN di Kantor Pusat CCCC, Beijing, Jumat.

Salah satu proyek yang paling besar yakni jalan tol Solo-Kertosono senilai 300 juta dolar yang proses pembangunannya sudah dimulai pada 2016.

Selain itu, CCCC juga telah menyelesaikan laporan studi kelayakan untuk proyek-proyek infrastruktur di Indonesia barat seperti jalan lingkar di Pulau Jawa, pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara, kawasan industri Bitung di Sulawesi Utara, dan real estate di DKI Jakarta.

Namun, kata Dapeng, pengerjaan proyek-proyek tersebut masih menunggu persetujuan dari pemerintah Indonesia.

Selain memaparkan proyek-proyek yang sedang dalam tahap penjajakan, perusahaan asal China yang ikut berinvestasi dalam pembangunan jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) itu juga mengungkap dua kendala utama pembangunan infrastruktur di Tanah Air.

“Tantangan utama adalah pembebasan lahan. Contohnya jalan tol Kualanamu-Binjai yang hanya berjarak 19 kilometer tetapi waktu pengerjaannya tujuh tahun, normalnya kita bisa kerjakan dalam dua tahun kalau tidak ada kendala pembebasan lahan,” tutur Dapeng.

Kendala kedua yakni sering bergantinya kepala atau pejabat BUMN yang memimpin proyek, sehingga membuat waktu pembahasan dan negosiasi kontrak menjadi molor.

Sebagai contoh, CCCC telah merampungkan 28 master plan untuk pembangunan pelabuhan namun hingga saat ini belum ada satu pun yang diterima pemerintah karena para pimpinan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) kerap berganti dalam dua tahun terakhir.

“Akan sangat mudah bagi investor untuk berubah pikiran kalau pejabatnya sering sekali berganti, apalagi kami sudah menghabiskan lebih dari 5 juta dolar AS untuk studi kelayakan proyek-proyek ini,” tutur Dapeng.

Tercatat sebagai perusahaan kontraktor dengan peringkat ke-3 terbaik versi Engineering News-Record (ENR) 2016, CCCC memiliki lebih dari 200 proyek di 58 negara dengan nilai kontrak mencapai 37 miliar dolar AS.

Perusahaan yang mulai berekspansi di Indonesia pada 1996 itu telah mengerjakan beberapa proyek penting seperti jembatan Hong Kong-Zhuhai-Macau, rel kereta api Mombasa-Nairobi, bandara internasional Macau, apartemen dan kondominium “The Grand” di Los Angeles, serta derek kontainer di Pelabuhan Hamburg. (D02)