Peserta Jamsostek Tinggi Dipicu Layanan Medical Check-Up

Surabaya,(DOC) – Telah dibukanya layanan medical check-up(MCU) oleh PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) Kantor Wilayah (Kanwil) VI, yang meliputi Jawa Timur (Jatim), Bali dan Nusa Tenggara (Nusra), membuat pertumbuhan peserta Jamsostek tercatat tinggi.
Data peserta Jamsostek di tahun 2012, tercatat mencapai 3 juta jiwa, atau tumbuh sebesar 156% dibanding capaian tahun 2011.
MCU sendiri, masuk kedalam bagian layanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan(JPK), yang memberikan fasilitas bantuan berupa pemeriksaan kesehatan, bagi peserta tenaga kerja yang berusia diatas 40 tahun. Ditambah lagi bantuan tindakan Hemodialisa(cuci darah) bagi tenaga kerja dan keluarga, Bantuan Pengobatan Kanker, HIV/AIDS dan Operasi Jantung. “Layanan MCU mendapat respon yang sangat tinggi dari perusahaan-perusahaan yang ada di Jatim, “jelas Kepala Bagian Pelayanan PT Jamsostek Kanwil VI, Rully Wijaya, Senin (4/2/2013).

Selama ini rata-rata jumlah peserta tenaga kerja di Jamsostek, tiap tahunnya meningkat 20%. Namun sejak adanya layanan tambahan JPK tersebut, tingkat ke-peserta an tenaga kerja di Jamsostek mengalami pertumbuhan yang signifikan.
“JPK merupakan salah satu program Jamsostek yang membantu tenaga kerja dan keluarganya dalam mengatasi masalah kesehatan. Mulai dari pencegahan, pelayanan di klinik kesehatan, rumah sakit, kebutuhan alat bantu peningkatan fungsi organ tubuh, dan pengobatan, secara efektif dan efisien,”jelas Rully.
Setiap tenaga kerja yang telah mengikuti program JPK akan diberikan Kartu Pemeliharaan Kesehatan(KPK) sebagai bukti diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Menurut Rully, JPK adalah hak bagi tenaga kerja yang telah menjadi peserta. “Dengan adanya layanan tambahan di JPK berupa MCU, kami targetkan tahun ini tingkat kepesertaan Jamsostek bisa tumbuh sekitar 40%,” tandasnya.
Besaran iuran atau premi JPK yang dibayar oleh perusahaan, menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah(PP) Nomor 53 Tahun 2012, tentang perubahan kedelapan atas PP Nomor 14 Tahun 1993, tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. “Hitungannya yaitu, 3% dari upah tenaga kerja (maksimal Rp 3.080.000,red) untuk tenaga kerja lajang, 6% dari upah tenaga kerja (maksimal Rp 3.080.000,red) untuk tenaga kerja berkeluarga dan dasar perhitungan persentase iuran dari upah setinggi-tingginya Rp 3.080.000,” Kata dia.(dhani/R7)