Petani Jatim Sumbang Nilai Tukar 0,10 Persen

Tidak ada komentar 173 views

Surabaya, (DOC) – Nilai tukar petani (NTP) Jatim meningkat 0,10 persen menjadi 103,25 persen selama Nopember 2012 dibandingkan Oktober lalu yang hanya 103,14 persen. Ini terjadi karena kenaikan indeks harga yang diterima petani melebihi kenaikan indeks harga yang dibayar petani.

“Di Pulau Jawa, dari lima provinsi yang melakukan penghitungan NTP, tiga provinsi mengalami kenaikan dan dua lainnya turun,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Sapuan, Selasa (4/12/2012).

Menurut dia, kenaikan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Barat mencapai 0,43 persen. Lalu disusul  Banten 0,29 persen dan Jawa Timur 0,10 persen. Sementara NTP Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama Nopember 2012 mengalami penurunan sebesar 0,53 persen dan Jawa Tengah turun 0,35 persen.

“Pada Nopember 2012, tiga sub sektor pertanian mengalami kenaikan NTP sedangkan dua sub sektor lainnya mengalami penurunan. Kenaikan NTP terbesar pada sub sektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,87 persen menjadi 96,73 persen selama Nopember 2012,” ujarnya.

Selain itu, jelas dia, NTP sub sektor tanaman pangan meningkat 0,58 persen menjadi 104,07 persen pada Nopember 2012 dibandingkan Oktober lalu 103,47 persen. Posisi berikutnya, sub sektor perikanan NTP-nya naik 0,13 persen menjadi 99,97 persen.

“Sementara, NTP sub sektor peternakan turun 0,94 persen menjadi 98,29 persen selama Nopember 2012 dan sub sektor hortikultura turun 0,92 persen menjadi 110,45 persen,” katanya.

Untuk indeks harga yang diterima petani, tambah dia, meningkat 0,37 persen menjadi 151,16 persen pada Nopember 2012. Kenaikan indeks tersebut terjadi karena meningkatnya indeks harga yang diterima petani pada tiga sub sektor seperti sub sektor tanaman perkebunan rakyat, tanaman pangan, dan perikanan. “Namun, sub sektor hortikultura dan peternakan mengalami penurunan,” katanya.

Mengenai komoditas pemicu kenaikan indeks harga yang diterima petani, sebut dia, gabah, kopi biji kering, pisang, bawang merah, cengkeh, jagung pipilan, ikan teri, kelapa belum dikupas, kol/kubis, dan ikan tongkol. “Untuk komoditas penyebab penurunan indeks harga yang diterima petani di antaranya sapi potong, cabai rawit, mangga, cabai merah, jeruk, apel, ayam, udang, cumi-cumi, dan coklat biji,” urai dia.

Di sisi lain, lanjut dia, indeks harga yang dibayar petani selama Nopember 2012 mengalami kenaikan 0,27 persen menjadi 146,41 persen. Peningkatan tersebut karena kenaikan indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi pedesaan) 0,26 persen, indeks biaya produksi dan pembentukan barang modal 0,35 persen.

“Pemicu kenaikan indeks harga yang dibayar petani diantaranya daging sapi, bawang merah, bawang putih, pisang, wortel, ikan cakalang, tempe kedelai, gula pasir, jeruk, dan upah membersihkan kapal,” ungkap Sapuan. (k8/r4)