Petugas Satpol PP di Acungi Pedang Oleh Warga Sekitar Dolly

Surabaya,(DOC) – perlawanan warga gang Dolly dan sekitarnya (Putat Jaya) semakin terang-terangan dan berani, menyusul statement Wisnu Sakti Buana Wakil Walikota yang menyatakan kontra terhadap program pemkot Surabaya menutup lokalisasi gang Dolly dan Jarak.
Razia rutin yang digelar oleh pihak Satpol-PP kota Surabaya setiap malam minggu dilokalisasi gang Dolly dan Jarak, terpaksa dibatalkan untuk menghindari chaos. petugas melakukan razia tertutup, hanya melakukan pemantauan tanpa seragam, bergabung dengan Garnisun yang menggelar razia anggota TNI dan Polri.

Menurut salah satu petugas Satpol-PP, penyamaran petugas Satpol PP nampaknya sudah diketahui oleh warga setempat. Berdasarakan pantauannya, sejumlah warga mulai curiga dan sempat mengancam petugas yang berpakaian preman dengan sebilah pedang secara terang-terangan.
“jujur saya merasa ketakutan yang luar biasa, saat salah satu dari warga yang mengetahui keberadaan kami langsung mendekat dan mengancam kami dengan sebilah pedang ditangannya dengan ucapan bahwa pedangnya yang akan dipertajam lagi dan siap menghabisi siapapun anggota Satpol-PP yang berani masuk ke kawasan gang Dolly dengan tujuan penutupan,” terangnya dengan meminta agar namanya tidak di mediakan,Minggu(4/5/2014) dinihari.

Sementara itu, Joko Wiyono Kasi Pengawasan Satpol PP Kota Surabaya menyatakan, kondisi ini tidak akan mengurangi semangat anggotanya untuk tetap melaksanakan perintah dari atasannya, walaupun harus memerlukan kajian dan pertimbangan yang matang sebelumnya.

“benar, kami memang sempat mendapat berbagai ancaman, baik secara langsung maupun tidak, namun semua ini tidak mengurangi semangat kami untuk tetap melaksanakn tugas yang diberikan oleh pimpinan kami, doa dan dukungan masyarakat tetap kami harapkan agar kami bisa tetap mengabdi kepada warga kota Surabaya,” jelasnya.
Terpisah, Sekertaris Alumi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) M Anshori mengkritik kebijakan pemkot yang terkesan tak kompak dan membingungkan instansi dibawahnya. menurut ia, semestinya kedua pimpinan kota tersebut antara Walikota dan Wawalikota, menjalin komunikasi terlebih dahulu.
“kami memang lebih sepakat dengan pendapat Wisnu sakti Buana (WS) yang meminta agar pemkot Surabaya mengajak berbicara warga Putat Jaya yang kehidupan ekonominya akan terkena dampak langsung terhadap rencana penutupan lokalisasi Dolly dan jarak, dan sebaikan Risma dan Wisnu harus menjalin komunikasi interaktif supaya tidak terkesan adanya kontra pandangan dan kebijakan, karena akan membingungkan SKPD terkait seperti Dinsos dan satpol-PP sebagai pelaksana kebijakan,” ujar M Anshori.

Memang dalam hal ini, posisi Satpol-PP sangat dilematis, karena harus berhadapan dengan warga gang dolly dan konstituense PDIP Surabaya yang tidak setuju dengan penutupan lokalisasi Dolly dan Putat Jaya. disisi lain, Satpol pp di tekan oleh Walikota Surabaya.(sp/r7)