Prajurit TNI Tidak Boleh Bermain di Politik Praktis

Tidak ada komentar 165 views

Jakarta, (DOC) – Prajurit TNI tidak boleh bermain-main di area politik praktis yang berdasar loyalitas atau kesetiaan maupun hubungan emosional masa lalu, TNI harus menjadi pengawal jalannya demokrasi di Indonesia. Demikian disampaikan Asrenum Panglima TNI Mayjen TNI Muktiyanto selaku Inspektur Upacara (Irup) pada upacara bendera tujuh belasan di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Senin (17/6/2014).
Lebih lanjut Asrenum Panglima TNI menegaskan bahwa situasi aktual nasional yang sedang dihadapi bangsa Indonesia khususnya saat ini menjelang pemilihan Presiden yang tinggal hitungan beberapa hari lagi. Berkaitan dengan hal tersebut, Panglima TNI dalam berbagai kesempatan telah menekankan tentang netralitas TNI. Di tengah konstelasi politik yang semakin meningkat, TNI tidak boleh terpengaruh kepada bujukan atau rayuan atas dasar loyalitas dan kesetiaan masa lalu, iming-iming uang dan adanya kedekatan emosional.
Dalam kondisi situasi politik yang diwarnai saling curiga, saling menarik perhatian dan intrik politik, prajurit TNI harus tetap netral, bertugas secara profesional tidak terpancing oleh isu-isu yang sedang berkembang. Namun bukan berarti TNI apatis, tidak mau tahu terhadap perkembangan situasi politik yang terjadi. “Cermati, ikuti trend perkembangan yang terjadi, agar kita mampu menyikapi dan tidak terdadak terhadap apapun situasi yang akan terjadi”, tegas Asrenum Panglima TNI.
Usai Upacara, seluruh prajurit dan PNS Mabes TNI mengikuti peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1435 H di GOR A. Yani Mabes TNI dengan penceramah K.H .Asep Mubarok yang bertema “Jadikanlah peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW untuk meningkatkan kebersamaan dengan rakyat dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI”.
Dalam ceramahnya K.H. Asep Mubarok antara lain menyampaikan bahwa peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bagi umat Islam adalah menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT, karena dengan kejadian yang diperingati ini tidak hanya Isranya saja tetapi juga mengingat Mi’rajnya (Isra berarti jalan dan Mi’raj berarti naik). Untuk itu harus dapat mengambil hikmahnya berarti jangan jalan di tempat, tetapi harus maju jalan, harus mampu meningkatkan kualitas ibadah.
Dalam kesempatan tersebut, penceramah mengajak seluruh hadirin yang hadir untuk melakukan hijrah dengan melakukan ibadah seperti tadarus Al-Qur’an. Bila sebelum peringatan ini tidak pernah tadarus Al-Qur’an diharapkan setelah peringatan ini dapat mencoba untuk mengisi rumah dengan suara-suara toyibah sehingga datang keberkahan dari Allah SWT, seperti sabda Rasulullah yang artinya “Kasih cahaya rumahmu supaya malaikat hadir untuk memberi rahmat, dengan cara membaca Alqur’an, menegakkan sholat sunnah di tengah malam”. (puspen/r4)