Produksi Kedelai Jatim 2012 Memprihatinkan

Tidak ada komentar 151 views

Surabaya, (DOC) – Produksi kedelai di Jawa Timur pada 2012 diperkirakan sulit melampaui target atau realisasinya. Harga yang belum menarik masih menjadi penyebab utama keengganan petani menanam kedelai sehingga luas areal panen kedelai terus berkurang.

Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Eko Wibawa Putra mengatakan, realisasi produksi kedelai di Jatim pada 2011 mencapai 366.000 ton. Sedangkan hingga Angka Ramalan II tahun 2012, produksi kedelai di Jatim diperkirakan mencapai 316.000 ton.

“Artinya kita masih kurang 50.000 ton untuk menyamai realisasi 2011,” ujar Eko.

Eko mengaku optimis bisa menyamai produksi 2011 karena masih ada panen raya di bulan September hingga Oktober. Kalaupun produksi kedelai tahun ini bisa menyamai tahun lalu, namun tetap saja belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi kedelai di Jatim.

“Konsumsi kedelai di Jatim sekitar 460.000 ton per tahun. Memang masih berat untuk memenuhi seluruh konsumsi kedelai kita,” ujarnya.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur, Achmad Nurfalakhi menambahkan, pada 2011 luas arel panen kedelai di Jatim mencapai 263.782 hektare. Sedangkan di 2012 mengalami penurunan dari luasan  36.890 hektare menjadi 226.892 hektare.

“Harga kedelai menjadi menarik baru-baru ini saja. Kalau dulu sekitar Rp 5.000 per kg sekarang meningkat menjadi Rp 7.000 – Rp 7.500 per kg. Walaupun saat panen raya sedikit menurun menjadi Rp 6.300 per kg,” tutur Nurfalakhi.

Dengan harga kedelai di tingkat petani sebesar Rp 5.000 per kg dan produktivitas 1,5 ton per hektare, petani hanya mendapat keuntungan sebesar Rp 2,5 juta per hektare. Berbeda jauh dibandingkan dengan menanam padi yang dengan harga Rp 4.300 per kg dan produktivitas mencapai 6 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektare, sudah bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp 15,8 juta per hektaer.

“Karena itu jika harga kedelai bisa naik sampai Rp 7.500 maka hasil yang diterima petani bisa naik sampai Rp 12,5 juta,” ujarnya. Jika dikurangi dengan biaya produksi sebesar Rp 5 juta per ha, berarti petani masih mendapatkan untung sebesar Rp 7,5 juta,” tambah Nurfalakhi.

Dengan kondisi yang ada sekarang, Nurfalakhi menegaskan memang sudah waktunya impor kedelai ditekan dengan dibarengi tetap menggenjot produksi kedelai di dalam negeri. Harga Pokok Produksi (HPP) kedelai juga perlu segera ditetapkan dengan mengubah fungsi Bulog. (k8/r4)