Proyek Box Culvert Balongsari Tama Susahkan Warga

Tidak ada komentar 353 views

Surabaya,(DOC) – Kinerja Dinas Pekerjaan Umum(PU) Bina Marga Pemerintah Kota Surabaya nampaknya harus di evaluasi secara menyeluruh. Bukan saja kasus pembebasan lahan Midle East Ring Road(MERR) II C yang kini tengah ditangani oleh pihak kejaksaan, namun juga proyek pembuatan selokan di jalan akses ke pemukiman warga jalan raya Balongsari Tama.

Proyek pembangunan box culvert Balngsari Tama yang menelan anggaran Rp. 3,5 milliar, pelaksanaannya sungguh memprihatinkan. Bukan saja lama, tapi pengerjaannya sangat berantakan.

Hampir setengah badan jalan di lubangi di sepanjang jalan raya Balongsari Tama untuk dipasang box culvert. Akibatnya jalan yang semula rata, kini menyempit dan berlubang. Bahkan dari pantauan, warga pengguna jalan banyak yang terjatuh, akibat lubang-lubang box culvert yang belum ditutup.

“Macetnya minta ampun, kalo sore dan pagi hari. Maklum jalan menyempit dan berlubang. Saya saja sudah pernah jatuh terpeleset karena tidak tahu kalo ada lubang,” ujar Hendrik Warga Balongsari Madya, Senin(13/10/2014).

Keluhan ini juga dirasakan oleh Kholifah Warga Balongsari Tama Barat yang setiap hari melintas jalan tersebut untuk mengantar sekolah.

“Saya tak pernah lewat jalan raya, karena takut jatuh, apalagi macet,” keluhnya.

Berdasarkan data yang ada, Proyek pemasangan box culvert Balongsari Tama yang kini masih dikerjakan, terkesan dikebut oleh pihak kontraktor pemenang lelang yaitu PT. Pundi Kencana Makmur. Bagaimana tidak, deadline pembangunan box culvert yang telah ditetapkan ke dalam perjanjian lelang sudah mepet.

Proyek tersebut dijadwalkan pelaksanaannya pada tanggal 3 Februari sampai 31 Desember. Tapi fakta dilapangan, pemasangan box culvert dilaksanakan bertahap dan diduga tidak sesuai rencana. Seharusnya, box culvert dipasang di luar badan jalan atau trotoar hingga tidak mengganggu aktivitas lalu lintas. Sementara di atas box culvert nantinya, akan di gunakan untuk pendestrian jalan.

Perencanaan tersebut ternyata hanya dikerjakan di depan pintu masuk jalan akses perumahan warga, sepanjang 400 meter, selebihnya pihak kontraktor lebih memilih menggunakan badan jalan dan terkesan mengesampingkan pendestrian jalan.

“Hal ini sangat disayangkan dan perlu ada evaluasi atas proyek tersebut,”tegas Herlina Harsono Nyoto anggota DPRD Surabaya.

Bukan hanya pihak kontraktor yang di evaluasi kinerjanya, namun juga dinas terkait yang merencanakan proyek tersebut, perlu di evaluasi. Herlina menambahkan, dalam sebuah pembangunan proyek, kedua pihak bisa sama-sama melakukan kesalahan, hingga memunculkan dampak sosial.

“Perencanaannya pihak Dinas PU, sehingga keduanya harus di evaluasi. Kalo memang yang salah kontraktornya, ya Pemkot bisa memblack-list,” pungkasnya.(r7)