PSK Dolly Baca Pancasila di Sela Aksi Peringatan Mayday

Tidak ada komentar 197 views

Surabaya,(DOC) – Ratusan orang yang tergabung Forum Pekerja Lokalisasi (FPL) kemarin menggelar aksi di lokalisasi Dolly. Massa aksi yan terdiri atas Pekerja Seks Komersial (PSK), mucikari dan beberapa warga ini menolak penutupan lokalisasi karena mereka masih belum siap.

Sebelum memulai aksi, mereka membaca Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dengan membentangkan poster yang bertuliskan ‘Perjuangan Rakyat Tak Pernah Mati’ para pendemo menggelar aksi long march. Rute long march dimulai dari lokalisasi Dolly menuju Jalan Makam Kembang Kuning, kemudian Jalan Raya Darmo, dan berakhir di Jalan Gubernur Suryo, depan Gedung Negara Grahadi. Mereka bergabung dengan sejumlah buruh yang menggelar aksi demo May Day.

Salah satu peserta aksi, Teguh mengatakan, aksi ini adalah bentuk penolakkan penutupan lokalisasi Dolly oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Dia menilai, penutupan terlalu dipaksakan. Apalagi masyarakat sekitar lokalalisasi belum siap. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya dari Dolly. Mulai dari membuka warung, bisnis laundry, toko pracangan, jasa parkir dan beberapa jenis pekerjaan lainnya. “Memang pemerintah mengadakan pelatihan untuk PSK, mucikari dan warga. Tapi, waktunya hanya tiga hari. Ini sangat tidak efektif,” katanya disela-sela aksi,Kamis(1/5/2014) kemarin.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini tidak mempermasalahkan adanya aksi penolakan tersebut. Menurut dia, pemkot sudah memiliki strategi dan taktik untuk mengatasi segala bentuk penolakan penutupan lokalisasi yang konon terbesar se-Asia Tenggara tersebut. Sayangnya, pihaknya enggan menjelaskan strategi dan taktik seperit apa yang dimaksud. “Tidak apa-apa mereka menolak. Lagipua saya menutup (Dolly) ini berdasarkan perda (peraturan daerah) dan juga undang-undang (UU Perdagangan Orang),” paparnya.

Risma, panggilan Tri Rismaharini menjelaskan, penutupan lokalisasi ini bukan hanya atas dasar perda dan UU semata, tapi juga ingin menyelamatkan masa depan anak-anak yang ada disana. Anak-anak di Dolly, kata dia, harus diberi wawasan yang lebih luas. Bahwa lingkungan dimana mereka tinggal, tidak hanya berupa praktik-praktik prostitusi. “Saya yakin, kalau kita tulus dan ikhlas, Tuhan akan membantu. Karena ini (Dolly) akan mempengaruhi masa depan anak-anak. Anak-anak (di Dolly) harus punya kesempatan seperti anak-anak yang lain,” jelasnya.

Terkait dengan tudingan tidak adanya pelibatan warga dalam proses penutupan Dolly, Risma menyatakan, yang menjadi sasaran penutupan adalah rumah-rumah yang selama ini menjadi tempat praktik prostitusi (wisma). Sehingga, yang dilibatkan adalah para penghuni wisma, baik itu PSK maupun mucikari. Tapi, pihaknya tetap membuka kesempatan pada warga setempat untuk ikut dalam pelatihan ketrampilan yang diadakan pemkot. “Saya tetap optimis (19 Juni 2014) itu bisa ditutup,” pungkasnya.

Disisi lain, DPRD Surabaya mendesak agar pemkot tak ragu menutup Dolly. Adanya protes dan penolakan dari sejumlah pihak merupakan hal wajar. Lagipula, reaksi atas penolakan dan dampaknya sudah diantisipasi oleh pemkot. “Dimana-mana, ketika lokalisasi ditutup, selalu menuai banyak protes khususnya warga yang diuntungkan dari bisnis prostitusi. Antisipasi yang dilakukan pemkot sudah benar, salah satunya memberikan pesangon kepada pekerja seks komersial (PSK) maupun mucikari, memberikan pelatihan kerja serta menyiapkan lapangan pekerjaan baru,” ujar Ketua DPRD Kota Surabaya, M Machmud.(r7)