PT KAI Dukung Pemkot Jegal Tol Tengah Melalui Proyek AMC

Surabaya,(DOC) – Belum disahkannya revisi peraturan daerah(Perda) tahun 2007 tentang Rancangan Tata Ruang Wilayah(RTRW) kota Surabaya,  yang salah satu pointernya menetapkan pembangunan tol tengah kota, memicu PT Kereta Api Indonesia(KAI) mempercepat rencana pembangunan proyek angkutan massal cepat (AMC) di kota Pahlawan ini. Bahkan tak tanggung-tanggung PT KAI siap mendanai 100 persen pelaksanaan proyek trem.

Keputusan itu diketahui setelah Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan melakukan pertemuan dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini di balai kota, Kamis (11/9/2014).

Dalam kesempatan tersebut, Jonan menyanggupi pembangunan moda transportasi trem dengan jalur rel sepanjang 17 kilometer dengan biaya PT KAI.

“Pemkot nanti yang berkewajiban menyiapkan lahannya, sedangkan kami (PT KAI,red) yang akan membangun, investasi dan mengoperasikannya,” ujarnya saat ditemui usai pertemuan antara jajaran PT KAI dengan para pejabat Pemkot Surabaya.

Pembangunan proyek AMC ini, rencananya akan ditandai dengan perjanjian kerjasama antara PT KAI dan Pemkot Surabaya yang secepatnya dilaksanakan. Kini PT KAI tengah menyiapkan draft MoU proyek trem.

Saat di tanya target penyelesaianya, Jonan masih belum mau mengungkapkan secara detail. “Targetnya nanti sajalah, yang penting ujug-ujug tremnya sudah jadi, Bu Walikota potong pita, terus difoto. Nanti anda kami undang,” jelasnya.

Respon positif PT KAI ini, nampaknya membuat girang Walikota Tri Rismaharini, mengingat kebutuhan moda transportasi cepat ini sangat mendesak.

Menurut Risma, awalnya pemkot kesulitan dana untuk pembangunan proyek trem yang diperkirakan membutuhkan biaya sebesar Rp 2,2 triliun. Membumbungnya biaya pembangunan itu, karena Pemkot harus menyediakan infrastruktur pendukung seperti pengadaan depo dan kelengkapan lainnya.

Jika ditangani PT KAI, menurut Risma, pendanaannya bisa lebih murah lantaran sebagian fasilitas dan sarana menggunakan milik PT KAI.

Selama ini, biaya pembangunan rel yang dilakukan PT KAI selalu lebih banyak tersedot untuk urusan pembebasan lahan. Misalnya, yang terjadi di Bandara Kualanamu Medan. Untuk proyek itu, lanjut walikota, kabarnya menyedot anggaran sekitar Rp 1 triliun hanya untuk pembebasan lahan saja. “Sedangkan kalau di sini pembebasan lahan kan jadi kewenangan pemkot sehingga untuk pembangunan trem saja tidak membutuhkan dana yang melambung dari PT KAI,” urai Risma -sapaan Tri Rismaharini.

Ia menambahkan, berdasarkan estimasi PT KAI, proyek trem di Surabaya akan membutuhkan biaya Rp 400 miliar. Anggaran ini lebih hemat dari perkiraan Pemkot untuk pembangunan Trem oleh PT KAI, yang diprediksi mencapai Rp 600-800 miliar.

Risma memprediksi groundbreaking bisa terlaksana satu bulan lagi. Sedangkan, pembangunan fisik memerlukan waktu lebih kurang satu setengah tahun. Itu karena gerbong trem didatangkan dari luar negeri.

Sementara mengenai bahan bakar, telah disepakati bahwa trem akan menggunakan teknologi batere. Dengan teknologi tersebut, trem dapat melaju rata-rata 30 km/jam. “Kami juga gerak cepat menyiapkan segala sesuatunya, supaya proyek trem ini berjalan dengan lancar,” ungkapnya dengan nada optimis.

Seperti di ketahui, Rancangan proyek AMC diantaranya Monorel dan Trem Listrik ini memang tertuang dalam revisi Perda RTRW yang diajukan oleh Pemkot Surabaya ke Kementerian Pekerjaan Umum(PU) pada tahun 2012 lalu.

Dalam revisi Perda RTRW 2012, pembangunan proyek tol tengah kota yang tertuang di Undang-Undang RTRW dan Perda RTRW Kota Surabaya 2007, memang diusulkan dihapus dan diganti oleh pembangunan proyek AMC.

Pemkot yang sejak awal menolak Tol Tengah kota ini, seakan mendapat tambahan dukungan dari PT KAI yang bersedia membangun trem.

Namun hal ini malah menimbulkan polemik antara Pemkot Surabaya dan Pemerintah Pusat.

Berdasarkan informasi dari sumber di lingkungan Pemerintah Provinsi Jatim, sebulan lalu, Kementrian PU telah melelang proyek tol tengah kota Surabaya. Bahkan kabarnya salah satu investor pembangunan telah memenangkan tender tersebut.(hms/r7)