PTPN X Siapkan Dana Puluhan Milliar Untuk Kelola Lingkungan

Surabaya (Doc) – PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) menyiapkan dana Rp 40,8 miliar untuk meningkatkan tata kelola lingkungan di sebelas pabrik gula (PG) yang dimiliki perusahaan perkebunan milik pemerintah.
Dana pengelolaan lingkungan yang naik 200 persen dibanding tahun 2012 lalu sebesar Rp. 13,5 milliar, rencananya akan digunakan untuk pendukung perbaikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan penataan lingkungan secara menyeluruh. Disampaikan oleh Direktur Produksi PTPN X, T. Sutaryanto, bahwa, pengelolaan lingkungan menjadi salah satu permasalahan yang ada di industri gula. Terganggunya pengelolaan lingkungan membuat limbah tak bisa diolah dengan baik, sehingga dapat membuat produksi terhambat dan kinerja perusahaan menurun. ”Peningkatan standar mutu pengelolaan lingkungan, termasuk pengolahan limbah, adalah tuntutan dunia industri. Kalau sistem pengelolan limbah buruk, akan berakibat fatal dan bisa mengancam target produksi gula,” ujar Sutaryanto, dikantornya, Selasa(22/01/2013).

Sutaryanto menuturkan, keberhasilan pengelolaan lingkungan akan menjamin terciptanya pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan tidak diartikan sebagai cost center yang membebani perusahaan, tapi justru menjadi profit center dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Mengingat semakin baik pengelolaan lingkungan, akan makin mengefisienkan perusahaan. Ujung-ujungnya, laba perusahaan bisa meningkat. ”Tanpa pengelolaan lingkungan yang prima, mustahil pabrik gula bisa beroperasi lancar, mustahil pula bisa menciptakan laba yang tinggi,” ujarnya.
Dari dana pengelolaan Rp 40,8 miliar tersebut, Rp 23 miliar di antaranya akan dikhususkan untuk in-house keeping agar PG selalu terjaga tingkat kebersihannya. ”Kami ingin pabrik gula bisa sebersih mal. Ini sejalan dengan program besar Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk menyulap pabrik gula seperti mal dalam hal tingkat kebersihan,” ujar
Sementara itu, Sekretaris PTPN X, M. Cholidi menjelaskan, roadmap in-house keeping PTPN X terdiri atas tiga pilar, yaitu in-house keeping secara umum, revitalisasi sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan manajemen penguatan sumber daya manusia (SDM). In-house keeping yang baik akan meningkatkan efisiensi pabrik gula. “Kondisi pabrik yang prima dan bersih juga berpengaruh pada tingkat kehilangan pol yang kecil”, jelasnya.
Pol merupakan istilah jumlah gula yang ada dalam setiap 100 gram larutan yang diperoleh dari teknis pengukuran di pabrik. Menurut Cholidi, pabrik bisa menekan tingkat kehilangan bahan olahan sehingga bisa mengoptimalkan efisiensi. Sedang In-house keeping yang baik bisa mencegah terjadinya kebocoran dan tumpahan dalam rantai produksi di pabrik gula. ”Sehingga ada lokalisasi bahan olahan yang berpotensi terbuang untuk segera dikembalikan ke siklus produksi secepat dan secermat mungkin. Hal ini tentu saja meningkatkan efisiensi serta menghemat bahan baku dan energi. Dampaknya, profitabilitas pabrik gula akan meningkat,” ujarnya.

Pengelolaan lingkungan yang baik juga akan menjamin pengolahan limbah berjalan optimal. ”Kalau tak ada masalah limbah, pabrik gula bisa terus berproduksi. Sebaliknya, kalau limbah bermasalah, pabrik akan berhenti berproduksi dan itu merugikan,” jelas Cholidi.
Visi lingkungan PTPN X juga diwujudkan dalam hal efisiensi bahan bakar serta konservasi sumberdaya. Perseroan terus menekan BBM dalam proses produksinya dengan mengoptimalkan ampas tebu sebagai bahan bakar pengolahan. Perseroan telah berhasil menekan biaya BBM dari sekitar Rp 130 miliar pada 2007 menjadi hanya Rp 4 miliar pada 2012, tahun ini ditargetkan Rp1,5 miliar, dan pada 2014 sudah mencapai zero BBM.

Sutaryanto menambahkan, inovasi juga dilakukan dengan mengolah limbah padat menjadi pupuk biokompos. Limbah padat ini berasal dari abu atau blontong pembakaran yang kemudian diolah menjadi pupuk. Pupuk biokompas itu pada gilirannya dipakai untuk tanaman tebu di lahan-lahan milik petani.
”Limbah yang dulunya musuh kini justru mampu berkontribusi mengerek produktivitas lahan. Penggunaan pupuk biokompos dari limbah padat ini bisa menghemat penggunaan pupuk kimia. Dari segi hasil, penggunaan pupuk biokompos bisa membuat tebu tidak mudah kering. Kualitas tebu yang membaik ini bisa mengerek tingkat rendemen (kadar gula dalam tebu), sehingga kesejahteraan petani meningkat,” ujarnya.
Pabrik-pabrik gula di lingkungan PTPN X kini mengincar Proper Hijau. Sejumlah langkah telah disiapkan, termasuk menggandeng tim dari Tim Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya untuk memberikan referensi perbaikan dan peningkatan sistem pengelolaan limbah di pabrik gula.

Proper (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan) adalah program rutin yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mendorong penaatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. Peringkat kinerja Proper dibedakan dalam lima tingkatan, yaitu hitam, merah, biru, hijau, dan emas. Indikator penilaian kinerjanya adalah pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan lingkungan, serta pemulihan pencemaran dan kerusakan lingkungan. ”Kami mengincar Proper Hijau sehingga menunjukkan pengelolaan lingkungan PTPN X telah melebihi aspek yang dipersyaratkan (beyond compliance),” kata Sutaryanto.(dani/R7)