Puluhan Sentra PKL Tanpa Pedagang dan Pembeli

Tidak ada komentar 132 views

Surabaya,(DOC) – Sejumlah sentra PKL yang dibangun pemerintah kota Surabaya kondisinya memprihatinkan. Selain sepi pembeli, beberapa lokasi sentra PKL mulai ditingalkan para pedagangnya. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Hadi Mulyono mengakui, tidak semua sentra PKL eksis. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengalaman suasana sentra PKL ramai dikunjungi pembeli pada bulan pertama sejak pembukaan.

“Bulan pertama saja ramai, bulan kedua, ketiga mulai sepi” terangnya. Jumat (18/10/2013)

Menurutnya, kondisi tersebut wajar. Biasanya Hadi Mulyono, mereka yang sudah tidak melanjutkan aktifitas dagangnya bukan berasal dari komunitas PKL.

“jika PKL tidak masalah, pasti tahan banting” tegasnya.

Untuk mengisi stan-stan yang kosong, pihaknya memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar. Sementara untuk menarik perhatian masyarakat, agar berkunjung ke sentra PKL, Dinkop dan UMK melakukan kerjasama dengan aparat setempat.

“Kita koordinasi dengan camat dan lurah untuk membuat acara di situ’ katanya.

Selama ini, menurut Hadi untuk mengantisipasi sentra PKL mati, pihaknya juga melakukan pendampingan kepada para pedagang.

“kita lakukan pendampingan terus kepada pedagang dengan melakukan perbaikan dan pembenahan serta pembinaan pedagang’ paparnya.

Ia mengungkapkan, selama ini para pedagang yang menempati stan di sentra PKL bebas dari retribusi. Mereka hanya dibebani biaya listrik dan air.

“Tiga tahun ini, pedagang free of charge. Cuma untuk listrik dan air bayar sendiri” katanya.

Berdasarkan catatan Dinas Koperasi dan UKM jumlah sentra PKL yang berdiri di Surabaya sebanyak 21 lokasi. Tahun ini jumlahnya akan ditambah 7 sentra PKL yakni di RMI, jambangan, Manukan dan Sukolilo, sementara tahun depan ditambah 2 lagi.

“Tujuh tahun ini terbangun, 2 lagi di tahun mendatang” ungkapnya.

Dari sejumlah sentra PKL tersebut yang saat ini kondisinya kembang kempis di tiga lokasi, yakni Sememi, Kandangan dan Lidah wetan.

“Di Sememi dari 24, yang aktif hanya 8 stand” urainya.

Untuk permodalan, Hadi Mulyono mengatakan para pedagang berhubungan langsung dengan pihak perbankan melalui unit koperasi masing-masing. Pasalnya menurutnya, saat ini bantuan dana bergulir dari pemerintah kota sudah tdiak ada.

“Setiap sentra ada unit koperasi, nah ini yang berurusan dengan pihak ketiga, bank” tegasnya. (k1/r7)
\