Puspa Agro Siap Masuk Pasar Grosir

Tidak ada komentar 41 views

Surabaya (DOC) – Untuk meningkatkan peran stabilitator harga, Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur di sektor agribisnis PT Puspa Agro pada pertengahan tahun depan berencana memperluas bisnis dengan masuk ke pasar grosir.

Direktur Utama Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin mengatakan, Puspa Agro ingin masuk ke pasar grosir juga untuk ikut berperan sebagai stabilitator harga atau memotong mata rantai dari petani ke konsumen.

“Kami tidak masuk ke ritel, karena peran kami sebagai stabilitator akan hilang lantaran harga jual nanti bakal bersaing dengan para pedagang kecil, tapi kalau masuk sebagai grosir ini akan menggerakan ekonomi baik konsumen maupun pedagang pasar,” jelasnya.

Dia menjelaskan, Puspa Grosir akan memiliki konsep seperti Puspa Trading House tetapi berupa toko grosir dengan pembelinya adalah pedagang kecil di kampung-kampung secara jual putus. “Konsumen Puspa Grosir nantinya memiliki member sehingga tidak semua orang bisa beli di toko grosir kami, karena memang fokusnya untuk grosir bukan langsung ke end user,” katanya.

Saat ini, kata Muchibuddin, Puspa Agro masih melakukan studi banding dengan Bank Indonesia Jawa Timur terkait pasar grosir ini, termasuk rencana menggandeng koperasi, serta titik lokasi toko grosir.

Sementara itu, PT Puspa Agro tahun ini memproyeksikan mampu mencapai omset penjualan komoditas kopi hingga Rp 60 miliar. Direktur Utama Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin mengatakan, produk kopi dari petani kopi juga sudah masuk dalam komoditas barang di Puspa Trading House. Hingga akhir tahun ini diperkirakan Puspa Agro memasok 3.000- 4.000 ton kopi kepada konsumen. “Produk kopi kebanyakan dari Jember dengan jenis Arabika dan Robusta, biasanya kopi langsung dijual ke eksportir,” katanya.

Adapun komoditas kopi yang dipasok BUMD Jawa Timur itu sudah dilakukan sejak 2014 yakni dengan total omzet Rp 8,7 miliar atau sekitar 415 ton. Jumlah tersebut meningkat pada 2015 yakni mencapai Rp 36,3 miliar atau setara 1.666 ton. Pada 2016 sedikit ada peningkatan yakni tercapai Rp 38,2 miliar atau setara 1.652 ton. (D02)