Ragam Mitos dan Tradisi Malam 1 Suro Masyarakat Jawa

Surabaya,(DOC) – Negeri kita memang banyak menyimpan tradisi dan kebudayaan yang beragam dan menarik untuk di kupas.
Pergantian tahun baru Islam, 1 Muharram 1435 Hijriah, Selasa(5/11/2013), yang juga bertepatan dengan pergantian malam tahun baru Jawa atau lebih dikenal malam 1 Suro, nampaknya bukan hanya sekedar malam pergantian tahun sebagaimana lazimnya, namun lebih dari itu, malam 1 Suro, mengandung banyak ritual yang kini sudah menjadi tradisi dan kebudayaan masyarakat jawa secara turun menurun.

Masyarakat Jawa menyambut datangnya malam 1 Suro, tanpa ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan seperti pergantian tahun baru 1 Januari. Namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri, seperti melakukan ritual tirakatan, begadang(tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung tahun 1613 sampai 1645 Masehi. Kala itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah.

Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa.

Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan “lelaku”, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

“Lelaku” malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah.

Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.

Sementara di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sendiri, peringatan malam 1 Suro, yaitu dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.

Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap “eling” (ingat) dan “waspada”. Menurut maknanya, “Eling” artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedang “Waspada” berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.
Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro.
Terlepas dari mitos yang telah menjadi tradisi di masyarakat Jawa pada bulan Suro, memang harus diakui, introspeksi menjelang pergantian tahun sangat perlu, agar lebih mawas diri.
Introspeksi juga tak cukup dilakukan semalam saat pergantian tahun saja, melainkan setiap waktu, agar manusia lebih bijak dalam menyikapi segala problem hidup. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan Suro.(cwp/r7)