Risma Harus Minta Maaf Ke Warga Surabaya Soal Socrates Award

Surabaya,(DOC) – Penghargaan Socrates Award 2014 yang diterima oleh Pemkot Surabaya beberapa waktu lalu, terus mendapat sorotan dari semua kalangan masyarakat termasuk organisasi islam Ansor.
Penghargaan asal Inggris yang diduga “abal-abal” itu, sudah diumumkan ke masyarakat dan di arak keliling kota, oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Minggu(20/4/2014) lalu.
Ketua Pengurus Cabang(PC) Ansor Surabaya, Muhammad Asrosi menyatakan, Walikota dianggap telah melakukan kebohongan publik dengan mengumumkan penghargaan dibidang bussiness dari london yang pada kenyataannya, penghargaan tersebut masih diragukan. Bahkan dalam situs resmi lembaga yang mengeluarkan penganugerahan Socrates Award, kota Surabaya tidak tercantum sebagai nomitor.”Risma telah melakukan kebohongan publick, sehingga kami(PC Ansor Surabaya,red) meminta Walikota agar menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh warga Surabaya,”jelas Asrori, Kamis(8/5/2014).
Ia kemudian mengingatkan tujuan para Kyai dan pejuang bangsa terdahulu yang berperang melawan penjajah dengan penuh ke ikhlasan tanpa kebohongan, untuk menjadikan kota pahlawan ini merdeka.”Tidak ada gunanya membangun surabaya dengan kebohongan dan tipudaya, hanya untuk pencitraan saja dan tidak “lillahi ta’ allah”. Padahal dulu, saat kota ini berdarah-darah bertempur melawan penjajah, banyak Kyai yang turut berjuang memerdekakan Surabaya dengan ikhlas. Lha kok sekarang malah sebaliknya, Risma membangun kota ini dengan kebohongan,”tegasnya.
Asrori juga menyatakan, kepemimpinan Tri Rismaharini selama ini, juga dianggap sudah tidak layak lagi, sehingga jika Tri Risma mencalonkan Walikota kembali pada periode 2015-2020, Ia sudah tidak layak dipilih. “Walikota pencitraan seperti ini, sudah tidak layak dipilih lagi,”cetusnya.
Seperti diketahui, Penghargaan Socrates Award kategori Future City dari Europe Business Award (EBA) Oxford yang diterima Wali Kota Surabaya Tri Rismharini menimbulkan polemik. Penyebabnya, bukan Socrates Award yang diterima Risma, melainkan United Europe Award.

Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser menyatakan bahwa kekeliruan tersebut bukan faktor kesengajaan. “Kami berdasarkan undangan yang kami terima. Untuk penghargaan saya sendiri tidak tahu. Selain itu, kami tidak punya niatan membohongi,” jelasnya.

Bahkan, mantan Camat Sukolilo tersebut juga membantah adanya dugaan penghargaan yang diterima Risma karena dibayar. Menurut Ia, pembayaran uang sebesar 3.900 Euro atau sekitar Rp 62,7 juta yang dikeluarkan pemkot bukan untuk membayar agar Wali Kota Risma mendapat penghargaan, melainkan untuk membayar biaya seminar.

“Pembayaran itu untuk seminar, bukan untuk piala atau agar mendapat penghargaan. Apalagi ibu (Risma) sudah pesan jauh sejak menjabat kalau menerima penghargaan tapi bayar, beliau tidak mau,” ungkap dia.

Selain itu, kata Fikser, dibalik polemik yang muncul saat ini adalah ada pembicaraan kerjasama antarapemkot dengan kota di dunia yang ingin bekerjasama dengan Kota Surabaya.

“Yang terpenting saat ini dari undangan penghargaan itu, kita bisa melakukan pembicaraan kerjasama dengan kota-kota di dunia,” tandas Fikser.

Sekedar wacana, penghargaan Socrates Award kategori City of Future yang diterima Wali Kota Surabaya sebenarnya tidak pernah didapat. Risma hanya menerima penghargaan dari United Europe Award untuk kategori kota yang menghubungkan dengan eropa.

Hal ini terlihat dari bentuk piala dan piagam yang sempat diarak keliling kota. Piala yang dipegang Risma itu berbentuk sosok perempuan, dengan tangan kanan mengangkat bola dan tangan kiri memegang buku yang tak lain adalah piala United Europe Award.

Termasuk dalam piagam tertulis jelas ‘For Personal Contribution to the Development of Europe Integration’, bukan kategori ‘Innovative City of The Future’.(dc/r7).