Rusuh di MK, Keamanan Harus Dievaluasi

Tidak ada komentar 106 views

Jakarta, (DOC) – Anggota Komisi III DPR , Sarifuddin Sudding, menyatakan bahwa aparat keamanan, baik dari kepolisian maupun security internal di pengadilan, harus melakukan evaluasi sistem pengamanan di ruang sidang. Penegasan tersebut disampaikan Sudding terkait dengan terjadinya amuk massa di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (14/11/2013).
“Apapun persoalan dan masalahnya, perusakan ruang sidang sama sekali tidak dapat dibenarkan, dan polisi harus menegakkan hukum. Selain itu, kepolisian dan security internal juga harus melakukan evaluasi sistem pengamanan di pengadilan, khususnya di MK,” tegas Sudding dalam keterangan pers.
Aparat kepolisian, papar Sudding, harus berada di garis depan dalam pengamanan ruang sidang, sehingga bisa selalu mengantisipasi aksi amuk massa yang dikhawatirkan bakal terjadi. Polisi tidak boleh lengah dan membiarkan terjadinya perusakan ruang sidang pengadilan.
“Aparat kepolisian tidak boleh mengatakan tidak siap dengan amuk massa, apalagi sampai membiarkan massa yang mengamuk. Mereka punya intel, seharusnya sudah bisa memperkirakan dan mengantisipasi agar kejadian tersebut tidak sampai terjadi,” ujar Ketua Fraksi P. Hanura di DPR ini.
Menurutnya Sudding, dirinya merasa prihatin dengan peristiwa amuk massa yang terjadi di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) Peristiwa tersebut menurut Sudding menambah daftar panjang citra buruk peradilan di Indonesia.
“Saya melihat sendiri di televisi bagaimana massa yang mengamuk di ruang sidang MK, dan saya sangat prihatin, karena baru kali ini terjadi ada orang ngamuk di ruang sidang dan merusak peralatan sidang tanpa bisa dicegah,” ungkap Politisi dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah tersebut.
Sementara itu, Eva K Sundari mengaku perihatin akan kejadian di MK siang ini. Menurutnya pasca kejadian korupsi di MK yang melibatkan mantan Ketua MK non aktif Akil Mochtar. Lembaga terkahir dalam pemutusan perkara ini sudah sangat dipertanyakan kredibilitasnya.
“Saya prihatin, MK sudah kehilangan wibawa sejak skandal AM dan sayangnya tidak ada terobosan oleh MK untuk kompensasi tak kepercayaan masyarakat yang drop tersebut sehingga kewibawaan belum dipulihkan,” kata Eva melalui pesan singkat.
Sebelumnya diberitakan media bahwa massa yang diduga dari salah satu satu pendukung calon Gubernur Maluku mengamuk dan berbuat rusuh di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta. Saat itu, hakim MK tengah membacakan putusan pada sidang sengketa Pemilukada Provinsi Maluku.
Tiba-tiba, sekitar 30-an orang yang marah karena tidak puas dengan putusan tersebut berteriak-teriak dan maju ke depan sambil membanting meja-kursi di ruang sidang. Tidak berhenti sampai disitu, massa juga memecahkan kaca dan TV LCD yang berada dalam ruangan tersebut. (co/r4)